DIALEKSIS.COM | Feature - Di antara riuh kabar yang saling berebut ruang dan waktu, Akil Rahmatillah memilih berjalan lebih pelan. Tubuhnya tak tinggi, sekitar 160 sentimeter, kulitnya sawo matang, dan tutur katanya tenang. Namun dari kesederhanaan itu, ia merawat sesuatu yang kian langka: kesabaran untuk mendengar, keberanian untuk menulis, dan keyakinan bahwa di balik setiap peristiwa, selalu ada suara yang layak diperjuangkan.
Lahir di Banda Aceh 26 tahun lalu, Akil tidak tumbuh dengan mimpi menjadi jurnalis. Jalannya justru terbentuk dari kebiasaan kecil yang konsisten: menulis. Saat menempuh studi Ilmu Pemerintahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala, ia aktif menulis opini, terlibat dalam organisasi, hingga menyusun rilis kegiatan yang ia kirimkan ke berbagai media.
“Awalnya coba-coba, ternyata asyik juga,” katanya sambil tersenyum.
Dari kebiasaan itu, Akil perlahan menemukan ruangnya. Kini, sudah tiga tahun ia berkecimpung di dunia jurnalistik. Waktu yang cukup untuk membuatnya memahami bahwa berita bukan sekadar produk tulisan, melainkan hasil dari proses panjang: mendengar, memverifikasi, dan menyusun realitas agar dapat dipahami publik.
Namun, dunia yang ia pilih bukan tanpa bayang-bayang. Ia menyadari bahwa menjadi jurnalis berarti bersentuhan dengan risiko, terlebih ketika berhadapan dengan isu-isu sensitif.
“Bukan cuma menakutkan bagi diri sendiri, tapi juga keluarga. Orang tua,” ujarnya.
Meski belum pernah mengalami langsung tekanan atau ancaman, Akil mengaku bisa merasakan kegelisahan yang sama seperti yang dialami banyak jurnalis lain. Dari situ, ia belajar satu hal penting: keberanian harus berjalan beriringan dengan kehati-hatian.
Di tengah perubahan lanskap media dan derasnya arus informasi digital, Akil tetap memandang profesi ini dengan optimisme yang realistis.
“Kalau menjanjikan dalam artian kebutuhan sehari-hari terpenuhi, saya pikir sangat menjanjikan. Karena selama masyarakat butuh informasi, mereka akan tetap percaya pada jurnalis,” tuturnya.
Keyakinan itu ia jaga dengan terus mengasah kapasitas diri. Dalam beberapa tahun terakhir, Akil aktif mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari Training Keamanan Digital untuk Media dan Pembuat Konten (2025), Young Progressive Academy Batch 3 (2024“2025), ICPD Creative Fellowship 2024, hingga Pelatihan Cek Fakta AMSI Aceh dan Training on Conflict-Sensitive Reporting oleh AMSI dan UNESCO pada 2024.
Baginya, peningkatan kompetensi bukan sekadar formalitas, tetapi kebutuhan. Ia percaya, kualitas jurnalis akan menentukan kepercayaan publik terhadap media.
Namun di sisi lain, ia juga menyoroti tantangan serius yang masih dihadapi dunia jurnalistik: menurunnya kepercayaan akibat praktik yang menyimpang.
“Menjadi jurnalis itu harusnya wajib UKW. Jangan sampai ada yang menyalahgunakan profesi ini untuk kepentingan pribadi,” tegasnya.
Menurutnya, keberadaan media dan jurnalis yang tidak terverifikasi dapat merusak citra profesi secara keseluruhan. Jika dibiarkan, publik akan semakin sulit membedakan antara informasi yang kredibel dan yang menyesatkan.
Ia berharap ada penguatan standar dan pengawasan yang lebih ketat. Ia meyakini, ketika kualitas terjaga, kepercayaan publik akan kembali, dan pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan jurnalis itu sendiri.
Di balik semua pemikiran itu, Akil tetaplah seorang anak muda yang menjalani prosesnya dengan sederhana. Ia pernah lelah, pernah ingin berhenti sejenak dari rutinitas yang padat, tetapi tidak pernah benar-benar ingin meninggalkan dunia ini.
“Capek mungkin, tapi bukan berarti ingin berhenti,” katanya.
Bagi generasi muda yang masih mencari arah, pesan Akil tidak muluk-muluk. Ia percaya bahwa langkah besar seringkali berawal dari keberanian mencoba.
“Kalau memang ada bakat atau hobi menulis, boleh dicoba terjun ke jurnalistik. Saya juga awalnya begitu,” ujarnya.
Dari coba-coba itu, ia menemukan jalannya. Sebuah jalan yang tidak selalu mudah, tetapi memberinya ruang untuk tumbuh dan memahami banyak hal tentang manusia dan kehidupan.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan bising, Akil memilih tetap tenang. Ia menulis, mendengar, dan menjaga cerita, terutama yang nyaris hilang di antara keramaian.
Karena bagi Akil, jurnalis bukan sekadar profesi. Ia adalah cara untuk memastikan bahwa yang tak terdengar, tetap memiliki suara.
Ia kembali memandang layar laptopnya dan ketikan mulai terdengar, menuliskan kembali kisah yang mungkin saja menjadi saksi sejarah. [ra]