DIALEKSIS.COM| feature- Anak muda dari negeri penghasil kopi ini membuat seantaro dunia maya geger. Memasuki minggu kedua musibah Sumatera, videonya yang mengajak Mualem, Gubernur Aceh untuk tidak menangis lagi menjadi viral.
Sampai kini video di tengah kubangan lumpur sambil memanggul beras 15 kilogram, masih cukup banyak yang melihatnya.
“Jangan menangis Mualem. Aceh itu adalah rahim para pejuang. Bangsa yang paling sulit untuk ditaklukan. Bangun Mualem,” kalimat yang terucap dari mulut anak muda dalam kondisi lelah dan lapar, masih menggema.
Dia dipanggil Azir, sampai kini masih berprilaku santun dan jujur. Ringan kaki untuk menolong sesama tanpa pamrih, tidak kenal lelah, walau dia sendiri terkena dampak musibah.
“Ama…. Bukan saya yang kuat, tetapi doa ibu saya yang dahsyat,”sebut Azir ketika duduk dengan Dialeksis.com, di Intuisi Coffe, Blang Kolak Satu Takengon, menjelang keberangkatanya menyalurkan bantuan kemanusian dari Relawan Adeta Nurani, ke Kala Segi, Bintang, Jumat (2/1/2026).
Dia memanggil saya Ama (Bapak- Bahasa Gayo), dua anak lelaki saya adalah sahabat dekatnya yang juga relawan kemanusian dalam musibah banjir bandang ini.
Azir mengisahkan pengalamanya bertahan hidup saat musibah melanda. Saat rakyat terancam kelaparan dia bangkit, mengandalkan kekuatan fisiknya, karena beras dirumahnya sudah habis.
“Minggu pertama musibah saya berangkat dari Aceh Tengah ke perbatasan antara Kabupaten Bener Meriah dengan Kabupaten Bireun, Kecamatan Gajah Putih, Desa Rime Raya. Untuk membeli beras,” sebutnya.
Dalam perjalanan Azir masih tergiang dengan permintaan ibunya .”Nak, kalau kamu pergi dan ada rejeki belikan beras ya. Sore ini beras kita habis, ini yang terakhir dimasak”.
Kata-kata wanita yang telah melahirkan, membesarkan dan berkorban untuknya, telah membuat semangat Azir “meluap” untuk bertahan hidup bersama keluarganya.
“Bismillah, semoga doa ibu saya dikabulkan Allah, saya melangkah dengan penuh keyakinan. Menerobos jembatan yang putus dan jalanan berlumpur sisa air banjir dan longsor. Pulang pergi jalan kaki berjam-jam,”sebutnya.
Azir saat bercerita dengan Dialeksis.com masih membayangkan medan yang exstrim, sisa kayu gelondongan yang terbawa hanyut oleh material longsor. Bebatuan besar menempel di bukit-bukit yang siap menghantam kepalanya, bila turun dari atas.
Dia sebentar merenung sambil menikmati kopi pahit. “Seharusnya saya tidak memikul satu karung beras 15 kilogram untuk dibawa pulang, melainkan dua karung,” ucapnya.
Namun nurani Azir terusik, ketika diperjalanan dia bertemu dengan seorang anak dalam keadaan sakit, usia 4 tahun Gina namanya. Dia digendong oleh orang tuanya yang juga sama sama pejalan kaki. Mereka menyeberang ke kabupaten Bireun.
Tujuan Azir ingin membeli beras untuk keluarganya dengan uang pas- pasan. Namun dia melirik Gina yang sedang batuk diantara kubangan lumpur itu. Dia merogoh sakunya, sebagian uang untuk dibelinya beras, dia serahkan buat beli obat.
“Kita sama sama musibah, semoga Allah memudahkan urusan kita,”sebut Azir sambil menitip uang dari sakunya kepada orang tua Balita ini untuk membeli obat batuk.
Dalam perjalanan pergi ke arah Biruen dia melihat seorang porter, yang mengandalkan fisiknya untuk memikul barang demi mendapatkan beras. Dia membawa cabe dengan upahan Rp 5.000 perkilogram. Dalam guyuran hujan cabe yang dibungkus kardus itu semakin lama semakin berat.
Dia berjalan tertatih tatih. Beberapa kali terpeleset dalam kubangan lumpur. Azir yang saat pergi belum membawa beban, dia menolongnya, membawakan cabe itu hingga ke titik pengangkutan. Dia kembali melihat lelaki setengah baya itu sangat lelah.
Dia kembali merogoh sakunya, memberikan uang yang akan dibelinya beras, buat makan siang untuk ayah pahlawan keluarga ini yang berjuang, bertahan hidup di tengah musibah.
Ketika sampai diperbatasan, Azir merenung untuk membeli beras. Uangnya tidak lagi cukup buat dua karung beras. Akhirnya dia membeli satu karung beras 15 kilogram, itu juga untuk mencukupi harganya dia minjem pada temanya yang ikut dalam rombongan mencari beras.
Dalam hatinya berucap, “Bunda maafkan saya tidak bisa membawa dua karung beras, hanya satu karung yang bisa saya bawa pulang. Saya berbagi, saya tidak sanggup melihat manusia yang sangat kesusahan dalam bertahan hidup,” ada air hangat di indera penglihatanya.
Ketika membayangkan wajah ibunya, Azir semakin kuat untuk melangkah, walau tubuhnya sudah sangat lelah.
Dalam perjalanan pulang ke Takengon, Aceh Tengah, emosinya bercampur aduk. Nafasnya mulai tersenggal. Perutnya terasa keram diantara menahan lapar. Kerongkonganya kering, bahu dan lehernya terasa kaku. Air hangat di matanya keluar, namun terhalang lumpur.
Beras yang dipangulnya terasa semakin berat, perjalananya belasan kilometer dengan medan esktrem telah menguras tenaganya. Hatinya mengadu kepada sang Khaliq.
“Ya Allah dalam lelahku daku ihlas, ibuku menanti di rumah. Ya Allah, jadikan musibah ini sebagai penggugur dosaku. Gantikan dengan ampunan Mu ya Rab, undanglah daku menuju Baitullah mu.”
Kemudian Azir berteriak, pengguna jalan lainya dalam kubangan lumpur itu merekamnya dan mengugah ke media sosial hingga viral.
Dalam lelah, lapar dan perasaan yang bercampuk aduk Azir berteriak. "Hasbunallah WaNikmal Wakil. Mualem jangan menangis lagi. Bek le neu klik, enti neh mongot”.
“Konflik Aceh sudah kita lalui, damai sudah kita pelihara. Tsunami sudah kita tangani. Gempa di Dataran tinggi Gayo sudah kita hadapi. Covid 19 sudah kita lalui juga. Mualem. Bencana longsor dan banjir Sumatera sama sama kita lalui mualem,”teriak Azir.
“Jangan nangis lagi. Masyarakat bersama mu Mualem. Jangan cengeng. Aceh itu adalah rahim para pejuang. Bangsa yang paling sulit untuk ditaklukan. Bangun Mualem, kalau pemimpin menangis Kami masyarakat lemah Mualem,” harapan Azir menggema.
Dia juga mengucurkan air mata, namun air mata itu bukan melemahkanya. Namun menambah semangatnya untuk bangkit. Dia kembali memikul beras, membayangkan wajah ibu yang melahirkanya menanti di rumah.
“Saya tidak kuat, namun doa ibu saya yang dahsyat. Doa ibu saya membuat saya mampu melalui semuanya. Terima kasih Bunda, engkau pahlawan penyemangat hidupku,”ucap Azir mengakhiri ceritanya dengan Dialeksis.com, sambil menyeka matanya yang mulai memerah.