Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Feature / Menambah Duka, Pacuan Kuda Saat Bencana ?

Menambah Duka, Pacuan Kuda Saat Bencana ?

Selasa, 14 April 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Bahtiar Gayo
Rencana pacuan kuda disaat masyarakat kesusahan bertahan untuk hidup, mencari sesuap nasi. [Foto: Bahtiar Gayo]

DIALEKSIS.COM | Feature - “Bagaimana kami mau menonton pacuan kuda. Untuk makan saja susah. Kami bertahan hidup dalam bayang-bayang maut,” sebut Khairuddin Aman Alfi, Warga Dedamar, Bintang, Aceh Tengah.

Trauma bencana masih membekas di dada. Belum pulih, apalagi ada banjir susulan. Sumber penghidupan hancur, sebagian masyarakat bertahan hidup dalam bayang-bayang maut. Namun mereka tidak ada pilihan, harus menjalaninya.

Apalagi memasuki musim penghujan, banjir susulan kerap terjadi. Namun disaat masyarakat berjuang untuk hidup, Pemda Aceh Tengah melalui Dinas Pariwsiata akan menggelar event hiburan rakyat, pacuan kuda tradisonil menyemarakan HUT Kuta Takengon ke 449.

“Dijadwalkan sebelum lebaran Idul Adha ini event pacuan kuda sudah digelar,” kata Erwin Pratama, Kadis Pariwisata Aceh Tengah dalam keteranganya kepada media, Selasa (14/04/2026). Saat ini dalam tahapan persiapan.

“Rapat koordinasi sudah digelar, kini menunggu proses administrasi teknis dan tender dilaksanakan. Total anggaran mencapai Rp 480 juta dan akan dikelola oleh pihak ketiga setelah proses lelang rampung,” jelasnya.

Menurut Kadis Pariwsiata, event pacuan kuda untuk trauma healing. Bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi sebagai ruang pemulihan psikologis masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Selain itu, jelas Erwin, untuk menghindari event yang sama berbenturan dengan agenda nasional seperti peringatan 17 Agustus. Keputusan ini juga untuk memastikan momentum ekonomi dan sosial tidak terlewat.

“Ini bukan euforia. Kita ingin menghadirkan ruang trauma healing yang sehat untuk pemulihan psikologis warga. Event ini diharapkan menjadi pelopor kebangkitan UMKM lokal. Perputaran ekonomi diprediksi meningkat seiring hadirnya pengunjung, pelaku usaha kuliner, hingga pedagang kecil yang memanfaatkan momentum pacuan kuda,” sebutnya.

“Bagaimana kami mau menonton pacuan kuda. Untuk makan saja susah. Kami bertahan hidup dalam bayang-bayang maut,” sebut Khairuddin Aman Alfi, Warga Dedamar, Bintang, Aceh Tengah.

Pernyataan yang sama juga disampaikan Haikal, petani kopi lainya yang baru saja berjuang dengan maut di kawasan Kenawat untuk mendapatkan beberapa kaleng kopi.

“Kami harus memanggul kopi untuk sampai dikenderaan. Lumanyan jauh, jalan berlumpur. Tidak ada lagi akses jalan, kami harus melintasi kayu gelondongan diantara serakan lumpur,” sebut Haikal.

“Untuk mendapatkan sekaleng kopi, kami harus berhadapan dengan maut. Melintasi sungai yang deras, sepeda motor kami dilarikan arus sungai. Namun harus kami lalui, bila tidak kami bisa kelaparan,” sebut Aman Nisa, warga lainya yang berkebun di kawan Kemenyen Bintang.

Pengalaman pahit para petani ini bukan hanya mereka yang merasakan, manyoritas petani di Aceh Tengah merasakan penderitaan yang sama, akibat amukan banjir bandang yang telah meluluh lantakan negeri ini.

Menurut mereka, seandainya dana untuk pacuan kuda itu diberikan kepada masyarakat yang bergotong royong, membangun jalan, membersihkan kampung dari kubangan lumpur, itu jauh lebih bermakna.

“Kami bergotong royong mengangkat kayu besar, mengandalkan kekuatan fisik, untuk mencangkul dan membersihkan lumpur. Kalaulah pemda menyiapkan beko, membantu kami, tentunya itu jauh lebih baik untuk kami bertahan hidup,” sebut Aman Nawar, petani lainya yang sudah sering bergotong royong, namun jerih payah mereka hilang saat dilanda banjir susulan.

Tokoh muda Gayo, Edi Syahputra Linge, ketika mendengar Pemda Aceh Tengah akan menggelar event pacuan kuda dengan anggaran mencapai Rp 480 juta, menilainya tidak berperi kemanusian.

“Dinas Pariwisata telah membuang malu dan kehilangan hati nurani. Di saat tanah kami longsor, rumah kami terendam, dan warga masih mengungsi, mereka malah sibuk berpesta pora dengan uang rakyat,”ujar Edi dalam keteranganya kepada media Selasa (14/04/2026).

Menurut Edi, alasan yang dikemukakan Dinas Pariwisata bahwa kegiatan tersebut untuk “trauma healing” adalah sebuah kebohongan publik yang tidak masuk akal. Siapa sebenarnya yang menikmati event pacuan kuda?

“Apakah korban banjir dan longsor yang sedang berjuang di pengungsian, bertahan hidup dengan sumber ekonomi yang sangat susah, atau hanya segelintir elit dan kalangan tertentu yang haus akan hiburan,” tanya Edi.

“Jangan jadikan penderitaan rakyat sebagai panggung pencitraan. Trauma healing macam apa yang biayanya nyaris setengah miliar. Sementara warga masih kelaparan dan hidup dalam ketakutan akan bencana susulan. Ini bukan pemulihan, ini pemborosan dan ketidakpekaan,” tegasnya.

Menurut Edi, penggunaan anggaran senilai Rp Rp480 juta itu tidak tepat sasaran. Ia mendesak agar dana tersebut segera dialihkan untuk langkah-langkah darurat dan antisipasi bencana, mengingat curah hujan masih tinggi hingga saat ini.

Belasan ruas jalan masih tertimbun longsor, akses warga terputus, dan genangan air masih merendam permukiman.

“Bukalah mata dan telinga. Dinas Pariwisata, rakyat butuh alat berat untuk membersihkan longsor, bukan butuh kuda berlari. Rakyat butuh pompa air dan makanan, bukan hiburan sesaat,” sebutnya

Edi juga menyoroti kondisi pengungsian yang memprihatinkan. Hunian Sementara (Huntara) tak kunjung rampung, bantuan belum merata, sementara petani dan pekebun kehilangan mata pencarian tanpa kejelasan ganti rugi.

Dalam situasi seperti ini, menurutnya, menggelar hajatan besar seperti event pacuan kuda adalah bentuk penghinaan terhadap penderitaan rakyat. Bupati Aceh Tengah harus bertindak tegas, jangan hanya diam.

“Saya serukan kepada Bupati, tunjukkan bahwa Anda punya hati dan nyali. Batalkan kegiatan ini sekarang. Jika tetap dipaksakan, maka kami, rakyat Aceh Tengah, akan menyatakan bahwa pimpinan dan jajarannya sudah mati hati nuraninya. Tidak pantas memimpin di tengah bencana,” kata Edi Saputra.

Kritikan dan kecaman tentang rencana pacuan kuda ini, sampai berita ini diturunkan, terus mengalir bagaikan air mencari muara. Berbagai pihak, terumatama di dunia maya ramai mempersoalkanya.

Apakah event yang dinilai banyak pihak ini menambah luka diatas luka saat negeri ini dilanda bencana, akan tetap dilaksanakan Pemda Aceh Tengah menjelang lebaran Idul Adha ini? [bg]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI