Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Liputan Khusus / Indepth / Riuh Para Kandidat Merebut Kursi Ketua Demokrat Aceh

Riuh Para Kandidat Merebut Kursi Ketua Demokrat Aceh

Sabtu, 07 Februari 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn/Baga


ilustrasi. Foto: hasil olah AI 


DIALEKSIS.COM | Indepth - Ibarat pendekar yang menguasai jurus-jurus andalan, satu persatu bermunculan ke permukaan untuk meraih tampuk pimpinan perguruan, demi melanjutkan misi dan visi yang sudah dibangun.

Para pendukungnya meramaikan dunia maya dan menjadi hiasan pemberitaan. Menarik untuk disimak para “pendekar”yang akan memegang kendali Bintang Mercy dengan warna dasar biru di ujung barat Pulau Sumatera.

Perburuan kursi Ketua DPD Partai Demokrat Aceh memasuki babak tarik-menarik antara kandidat internal dan figur eksternal. Diantara sekian banyak figur yang bermunculan, ada kandidat internal nama yang dinilai agresif mencalonkan diri, Nurdiansyah Alasta, atau akrab disapa "Bang Dian".

Selain itu, muncul juga nama Illiza Sa'aduddin Djamal, seorang figur eksternal berprofil nasional, kini menjadi pejabat publik di Kota Banda Aceh, namanya masuk dalam radar Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Demokrat sebagai kandidat yang potensial.

Munculnya nama wanita politikus tangguh ini telah memunculkan reaksi kader internal, bahkan ada yang menolaknya karena bukan merupakan kader partai Bintang Mercy ini. Isu it uterus menggelinding menjelang dilaksanakan Musyawarah Partai Demokrat.

Pihak internal yang disebut-sebut terusik dengan kehadiran sosok non kader partai, adalah salah seorang kandidat yang kini ramai menjadi pembahasan. Bang Dian. Nurdiansyah Alasta ini diisukan berupaya mengganjal langkah wanita anggun yang kini memiliki lencana di dada hasil pilihan rakyat.

Dialeksis.com menelusuri siapa sosok Bang Dian yang namanya disebut-sebut akan mengibarkan bendera Demokrat di Provinsi paling ujung Barat Pulau Swarnadwipa ini. Nurdiansyah pada Pemilu sebelumnya berada di angka 18.007 suara terkonsentrasi hanya pada dua kabupaten di Daerah Pemilihan (Dapil) Aceh 8, yaitu Kabupaten Aceh Tenggara dan Kabupaten Gayo Lues.

Posisi strukturalnya di internal partai disebut bukan di level teratas. Dalam kalkulasi politik, modal suara dan posisi struktural menjadi indikator penting. Teori modal politik (political capital) menyatakan bahwa kombinasi modal elektoral, jaringan, dan akses ke sumber daya menentukan daya tawar seorang kandidat dalam kompetisi partai.

Jika dibandingkan dengan dua figur eksternal lain yang ikut disorot, Armia Fahmi dan Illiza Sa'aduddin Djamal, keduanya dinilai memiliki magnet elektoral dan jejaring yang lebih luas.

Armia, dengan latar belakang kepolisian dan jabatan tinggi sebelumnya, memiliki akses jaringan birokratik dan pengetahuan soal tata kelola daerah, sementara Illiza yang pernah duduk sebagai anggota DPR RI periode 2019 - 2024 dari Dapil Aceh I memiliki basis suara yang meningkat signifikan.

Berdasarkan catatan internal yang diperoleh Dialeksis dari Komisi Independen Pemilihan Aceh (KIP Aceh), perolehan suara Illiza melonjak dari 78.396 pada Pemilu sebelumnya menjadi 110.556 pada Pemilu 2024, atau naik sekitar 343 persen dari referensi yang dicatat.

Lonjakan itu menunjukkan daya tarik elektoral yang kuat dan kemampuan mobilisasi suara komponen yang kerap menjadi variabel penentu dalam kalkulasi kepartaian. Selain modal elektoral, loyalitas kader menjadi faktor pembentuk kekuatan internal.

Dialeksis mencatat sejumlah nama internal yang dinilai memiliki loyalitas kuat dan rekam jejak politik di tubuh Demokrat Aceh, antara lain Arif Fadhillah, HT. Ibrahim, dan Nova Iriansyah yang masih tercatat sebagai kader aktif. Ketiga memiliki modalitas sangat strategis dibandingkan dengan kader lain Demokrat Aceh.

Terkait dinamika perebutan ketua Demokrat Aceh jelang musda kian dekat, Dialeksis meminta pandangan dari Dr. Firman Lukman, seorang pengamat politik dan kebijakan publik dari Universitas 17 Agustus 1945 (UTA 45) Jakarta.

Menurutnya bahwa loyalitas dan legitimasi internal seringkali menjadi bantalan penting ketika partai menghadapi pilihan antara figur eksternal yang punya daya tarik elektoral dan figur internal yang memahami kultur serta jaringan partai.

Dalam perspektif teori legitimasi partai, partai politik cenderung menghadapi dilema antara kebutuhan jangka pendek (menang elektoral) dan kebutuhan jangka panjang (memperkuat basis kader dan organisasi).

Masih menurut pakar ilmu politik Dr. Firman Lukman yang dihubungi Dialeksis berpendapat, secara teori jaringan (social network theory), hubungan personal dan koneksi kelembagaan bisa memperkuat posisi seorang calon, tetapi efektivitasnya sangat tergantung pada seberapa luas jaringan tersebut terhubung pada basis pemilih dan sumber daya finansial.

Jika jaringan hanya bersifat elit dan top-down tanpa basis akar rumput, dampaknya terhadap perolehan suara bisa terbatas.

Dari kondisi itu Dr. Firman Lukman memperingatkan bahwa stabilitas partai di tingkat daerah akan diuji jika pilihan figur tidak dirasakan adil oleh kader.

"Partai harus menyeimbangkan kebutuhan elektoral dengan legitimasi internal. Jika tidak, pilihan strategis jangka pendek bisa merusak struktur organisasi jangka panjang," ujar Dr Firman Direktur Indonesia Democracy Research Center.

Sementara itu, sumber internal partai kepada Dialeksis menyebutkan, ada kekhawatiran bila DPP memaksakan figur termasuk kemungkinan "karpet merah" bagi Bang Dian tanpa memperhatikan kekuatan akar rumput, efeknya dapat menimbulkan fragmentasi internal di DPD Demokrat Aceh.

Risiko semacam ini sejalan dengan kajian teori partai tentang 'top-down imposition', yang menunjukkan bahwa keputusan puncak yang mengabaikan input lokal berpotensi memecah kohesi organisasi.

Penelusuran Dialeksis.com mengungkapkan kedekatan Nurdiansyah Alasta dengan Ketua DPRA Zulfadhli hubungan yang menurut sumber, membuatnya kerap dipandang relatif "dekat" dengan arus politik partai lokal.

Selain itu, dia juga punya relasi dengan Plt Ketua DPD Partai Demokrat Aceh, Rian Syaf yang juga berstatus staf khusus di kementerian dianggap memiliki implikasi tersendiri terhadap dinamika pengambilan keputusan.

Dalam kerangka praktik demokrasi partai, proses pemilihan Ketua DPD idealnya berjalan transparan dan partisipatif. Teori tata kelola partai (party governance) menekankan perlunya mekanisme yang membuka ruang aspirasi kader, sekaligus mempertimbangkan faktor elektoral demi menjaga keseimbangan antara kepentingan organisasi dan kebutuhan kompetitif.

Kader Demokrat Aceh kini berada pada persimpangan jalan. Memilih figur yang memiliki magnet elektoral dan jejaring luas dari kalangan eksternal, atau memperkuat figur kader internal yang dianggap lebih memahami kultur partai.

Menanggapi adanya sorotan publik tentang sosok Nurdiansyah Alasta, Dialeksis.com meminta tanggapannya. Melalui seluler, Bang Dian memberikan penjelasan, khususnya seputar kandidat eksternal partai.

“Adanya kandidat yang muncul dari eksternal partai itu positif dan sangat berterima kasih. Artinya Demokrat masih digemari, masih dicintai oleh tokoh-tokoh besar seperti nama-nama yang muncul saat ini,”sebut Bang Dian.

“Saya sebagai kader partai bangga juga ketika ada ada gerakan yang memang menginginkan saya sebagai Ketua Demokrat. Dari internal itu muncul, karena mempercayai saya sebagai kader dengan kapasitas saya sebagai anggota DPRA,” jelas Nurdiansyah Alasta.

Menurut Bang Dian, itu merupakan satu kehormatan baginya yang harus dia pertanggungjawabkan. Kalau teman- teman , terutama ketua-ketua DPR memberikan kepercayaan, dia akan memegang amanah ini.

“Bismillah. Saya dipercayakan teman-teman, namun soal adanya penolakan calon dari luar, itu sebenarnya bukan penolakan. Mereka menginginkan sosok internal, karena sosok internal juga punya kemampuan, dan masih banyak stok,”sebutnya.

Dia juga menepis isu yang menyebutkan tata kelola pokir di Dewan dibawah kendali ketua DPRA. Isu itu sangat kental dan menjadi menjadi konsumsi publik. Mungkin media Dialeksis yang pertama menanyakan hal ini, jelasnya.

“Selama ini saya dekat dengan seuma semua anggota dan pimpinan DPRA. Saya juga dekat dengan Sekjen PA. Kedekatan ini tidak dalam konteksnya kami anggota DPR untuk mengelola pokir,” jelasnya.

Kedekatan itu, lanjutnya, kemudian dipolitisir, kalau menjadi ketua Demokrat seolah olah nanti akan disetir oleh kekuatan partai lokal atau dari pimpinan eksternal. Dia menilai kader-kader Demokrat tidak akan termakan dengan isu seperti ini.

Bang Dian menekankan, adanya isu penolakan calon pimpinan partai yang datang dari eksternal partai seolah-olah dia yang mengkondisikan, dengan tegas dia menyebutkan bahwa dirinya tidak pernah menyatakan apalagi mengkondisikan agar adanya penolakan tokoh eksternal partai.

“Kami sangat berterima kasih adanya pihak eksternal partai yang mau bergabung, apalagi serius ingin mengibarkan partai. Ini menjadi suatu kebanggaan yang menandakan partai ini masih dicintai dari pihak eksternal,” jelas Nurdiansyah Alasta. ***

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI