Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Kolom / Perang Brutal Teroris Zionis Amerika-Israel

Perang Brutal Teroris Zionis Amerika-Israel

Selasa, 03 Maret 2026 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Nurdin Hasan

Nurdin Hasan, Jurnalis Freelance. [Foto: Dokpri/HO]


DIALEKSIS.COM | Kolom - Sabtu pagi, 28 Februari 2026, udara Minab, Iran bagian selatan, masih terasa sejuk. Di Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh, tawa riang para gadis cilik berseragam rapi memecah kesunyian pagi. Sebagian dari mereka mengenakan jilbab.

Bagi mereka, hari itu adalah tentang mengejar cita-cita. Anak-anak berusia 7 hingga 12 tahun itu baru saja memulai rutinitas belajar, bermimpi masa depan yang mungkin hendak mereka bangun. Namun, ketenangan itu hanyalah fatamorgana.

Dalam hitungan detik, tanpa peringatan, langit biru cerah tiba-tiba koyak oleh deru desing rudal, yang membelah udara. Gemuruh rudal menyambar, menghantam gedung sekolah dengan presisi mematikan.

Dalam sekejap, bangunan sekolah itu luluh lantak, berubah menjadi puing-puing berdebu. Jeritan tangis, debu membumbung tinggi dan kesunyian yang mencekam menggantikan tawa anak-anak. Sekolah khusus anak perempuan yang semula penuh keceriaan, berubah menjadi neraka.

Laporan terbaru mengonfirmasi, 175 nyawa tidak berdosa melayang dalam tragedi pembantaian ini. Tas sekolah yang berwarna-warni kini terkubur di bawah puing reruntuhan. Ia menjadi saksi bisu sebuah serangan yang sulit dinalar oleh akal sehat manusia.

Tragedi di Minab hanyalah pembuka lembaran kelam yang lebih besar. Serangan serupa tak lama juga mengguncang Teheran serta beberapa kota besar lainnya di Iran. Targetnya bukan sekadar infrastruktur dan fasilitas militer, tetapi menyasar langsung ke jantung pemerintahan negeri para mullah.

Dalam serangan mematikan oleh teroris zionis Amerika Serikat dan Israel itu, pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Sayyid Ali Hosseini Khamenei, beserta sejumlah jajaran petinggi negara menjadi korban. Iran menetapkan masa berkabung 14 hari.

Sebuah laporan heroik muncul di tengah duka. Sebelum serangan fatal, intelijen sempat meminta Khamenei untuk dievakuasi ke bunker perlindungan yang paling aman. Tapi, dia menolak keras. Sebuah kalimat terakhir sang pemimpin 86 tahun itu yang kini menggetarkan rakyat Iran adalah, "Jika 8 juta warga Teheran sudah dievakuasi, barulah saya mau ikut."

Khamenei memilih tetap berada di tengah rakyatnya hingga maut menjemput bersama putrinya, menantu dan cucunya yang masih berusia 14 bulan. Kematian sosok paling ditakuti zionis Israel itu bukan sekadar hilangnya seorang pemimpin, melainkan pemicu kemarahan nasional yang tak terbendung. Rakyat Iran turun ke jalan, menuntut balas.

Pertanyaan besar bagi masyarakat awam muncul. Apa alasan mendasar teroris zionis Amerika-Israel melancarkan serangan mematikan itu? Secara diplomatis dan hukum internasional, sulit mencari argumen pembenaran agresi ini. Iran, sebagai negara berdaulat, tidak dalam kondisi melanggar hukum internasional yang membenarkan serangan brutal tersebut.

Jika narasi "ancaman nuklir" yang dijadikan dalih, publik dunia tentu ingat bahwa Israel adalah satu-satunya entitas di Timur Tengah yang secara terbuka mengakomodasi senjata pemusnah massal, tanpa pengawasan internasional yang setara. Barat, terutama Amerika, hanya tutup mata.

Agresi militer teroris zionis ini terlihat sebagai bentuk pemaksaan kehendak. Tanpa mandat PBB dan tanpa provokasi fisik terlebih dahulu, serangan ke kedaulatan Iran adalah tindakan yang bisa dikategorikan sebagai perang brutal.

Kenapa tak ada tindakan terhadap Israel yang jelas-jelas melanggar hukum internasional? Negeri zionis itu tiap hari membantai rakyat Palestina serta sering menyerang Lebanon dan Suriah. Lalu, mengapa Amerika-Israel begitu agresif? Pertanyaan ini mengarahkan pada satu titik: Apakah ini tentang keamanan, atau justru tentang ambisi hegemoni?

Dalam analisis politik lebih dalam, banyak pengamat melihat pola yang sangat mengerikan. Ada indikasi kuat bahwa Amerika — di bawah kebijakan makin tersentralisasi Pemerintahan Presiden Donald Trump -- telah menggeser fokus utamanya semata-mata untuk melindungi kepentingan Israel. Bahkan, jika itu berarti mengorbankan stabilitas kawasan Teluk.

Seorang analis politik asal Arab Saudi, Suleiman Al-Aqili, baru-baru ini menyoroti bahwa aliansi tradisional Amerika di kawasan Teluk mulai ditinggalkan. Amerika tampaknya tidak lagi peduli pada keseimbangan regional, selama agenda zionis berjalan mulus.

Mimpi besar yang sering dibahas dalam lingkaran strategis tertentu adalah mewujudkan "Israel Raya" -- sebuah konsep yang secara geografis mencakup pencaplokan wilayah-wilayah strategis dan kaya sumber daya di kawasan Teluk.

Dalam peta ambisius teroris zionis, Iran berdiri tegak sebagai "duri dalam daging." Iran dianggap satu-satunya kekuatan yang konsisten menghalangi rencana ekspansi itu. Tanpa melumpuhkan Iran, mimpi "Israel Raya" hanyalah ilusi. Apabila Iran tumbang, jalan menuju penguasaan total Teluk akan terbuka lebar bagi zionis.

Melihat brutalnya serangan teroris zionis ke Iran, muncul kekhawatiran besar bahwa skenario "Gaza Kedua" sedang dipersiapkan. Amerika dan Israel seolah ingin menjadikan Iran sebagai kanvas kehancuran massal, persis seperti yang kita saksikan di Gaza. Harapannya, penderitaan tak tertahankan akan mematahkan semangat perlawanan rakyat.

Namun, Iran merespons dengan cara berbeda. Fasilitas militer Amerika di negara-negara Teluk kini menjadi target serangan balik Iran, bersama dengan target di wilayah pendudukan Israel. Iran telah menegaskan: mereka akan membalas hingga tetesan darah penghabisan.

Kita kini berada di persimpangan jalan sangat berbahaya. Perang bukan lagi sekadar perselisihan ideologi, melainkan pertarungan eksistensial. Bagi warga sipil di Teheran, Minab, maupun kota-kota lain di Iran, realitasnya sangat sederhana namun tragis. Hidup mereka dipertaruhkan demi ambisi kekuasaan zionis yang tidak pernah mereka minta.

Jika perang berlarut-larut, Timur Tengah tidak hanya akan menjadi abu akibat rudal, tetapi juga saksi bisu kegagalan diplomasi dunia. Kalau hukum internasional tak lagi berwibawa menahan agresi Amerika-Israel, maka panggung perang ini akan jadi saksi bisu runtuhnya kemanusiaan demi ambisi politik zionis.

Di tengah ketegangan yang nyaris memicu kiamat regional ini, muncul fenomena unik di media sosial. Ini sedikit memberi napas lega bagi warganet. Di tengah desing rudal dan drone, beredar video AI sebuah pesawat berbendera Indonesia bermanuver di atas wilayah konflik. Alih-alih membom, pesawat itu justru menjatuhkan ribuan paket kotak yang terjun bebas.

Tentara di darat yang semula siaga tempur dibuat bingung. Setelah diperiksa, ternyata isi kotak itu bukan mesiu, tapi menu lengkap: nasi, ayam goreng, sayuran, dan sambal menggiurkan. Para tentara yang lelah dan lapar itu pun berakhir duduk melingkar sambil lahap menikmati kiriman tersebut.

Tampaknya, kalau diplomasi politik selalu menemui jalan buntu, mungkin sudah saatnya dunia mencoba jalur MBG (Makan Bergizi Gratis). Karena bagaimanapun, sulit untuk memicu pelatuk senjata jika perut sudah kenyang dan hati jadi senang. PEACE…!!![**]

Penulis: Nurdin Hasan (Jurnalis Freelance]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI