DIALEKSIS.COM | Jakarta - Penyakit hati masih menjadi ancaman serius karena sering berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Padahal, deteksi dini dapat menjadi kunci untuk mencegah kerusakan hati berkembang menjadi kondisi yang lebih berat seperti sirosis hingga gagal hati.
Ahli Hepatitis dan Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan (PISP), Prof. Dr. dr. David Handojo Muljono, Sp.PD mengatakan hati merupakan organ vital yang bekerja tanpa henti selama 24 jam untuk menjalankan berbagai fungsi penting bagi tubuh.
"Hati berperan dalam detoksifikasi, mengatur metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, serta memproduksi berbagai protein penting yang dibutuhkan tubuh," kata David dalam kegiatan Healthy Liver Awareness 2026 bertema "Solid Habit, Strong Liver" bersama Kementerian Kesehatan di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, berbagai faktor dapat memicu kerusakan hati, mulai dari infeksi virus hepatitis, konsumsi alkohol, perlemakan hati, penyakit autoimun, hingga gangguan metabolik.
Proses kerusakan hati umumnya diawali dengan peradangan atau inflamasi. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, tubuh akan membentuk jaringan parut atau fibrosis sebagai respons terhadap kerusakan yang terjadi.
"Fibrosis pada tahap awal masih bisa diperbaiki. Namun jika terus berlanjut, jaringan parut akan menggantikan jaringan hati normal dan berkembang menjadi sirosis," ujarnya.
Saat sirosis terjadi, struktur hati menjadi keras dan fungsi organ menurun. Kondisi tersebut dapat memicu berbagai komplikasi seperti penumpukan cairan di perut, mata dan kulit menguning, hingga gangguan pembekuan darah.
Karena itu, David menekankan pentingnya pencegahan dan deteksi dini. Pemeriksaan fungsi hati, tes darah, USG, hingga elastografi dapat membantu mengetahui kondisi hati sebelum kerusakan menjadi lebih berat.
"Semakin dini kelainan hati ditemukan, semakin besar peluang untuk pulih dan mencegah kondisi menjadi lebih berat," tegasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat guna menjaga kesehatan hati, seperti menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, melakukan vaksinasi yang diperlukan, serta menghindari konsumsi alkohol dan perilaku berisiko.
Penanganan penyakit hati sendiri disesuaikan dengan penyebabnya. Mulai dari terapi antivirus pada hepatitis virus, pengendalian berat badan pada perlemakan hati, penghentian konsumsi alkohol, hingga terapi khusus untuk penyakit autoimun. Pada kasus yang sudah lanjut, transplantasi hati dapat menjadi pilihan terakhir.
"Semakin cepat kerusakan hati dihentikan, semakin besar peluang untuk pulih dan terhindar dari komplikasi serius," pungkasnya. [ip]