Rabu, 30 September 2026
Beranda / Berita / Nasional / Masjid Amran dan Museum Tsunami Aceh, Dua Bangunan dengan Kemiripan yang Menarik

Masjid Amran dan Museum Tsunami Aceh, Dua Bangunan dengan Kemiripan yang Menarik

Selasa, 29 September 2026 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Museum Tsunami Aceh (kiri) dan Masjid Hajjah Andi Nurhadi atau dikenal dengan Masjid Amran (kanan). [Foto: acehtourism.travel/Kementan]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sekilas, keduanya seperti memiliki bahasa arsitektur yang serupa. Bangunan dengan garis melengkung, bentuk yang mengingatkan pada kapal, serta sentuhan desain modern yang dipadukan dengan identitas budaya daerah.

Satu berdiri di Banda Aceh sebagai pengingat tragedi kemanusiaan. Satu lagi tengah diselesaikan di Makassar sebagai rumah ibadah sekaligus persembahan seorang anak untuk mendiang ibunya.

Keduanya adalah Museum Tsunami Aceh dan Masjid Hajjah Andi Nurhadi, masjid yang dibangun Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menggunakan dana pribadinya.

Penelusuran Dialeksis terhadap dokumentasi arsitektur kedua bangunan memperlihatkan sejumlah kemiripan dari sisi pendekatan desain. Terutama penggunaan bentuk dinamis yang terinspirasi dari unsur maritim dan upaya menerjemahkan kekayaan budaya daerah ke dalam arsitektur kontemporer.

Namun, di balik kesamaan kesan visual itu, tersimpan cerita, filosofi, dan tujuan pembangunan yang berbeda.

Museum Tsunami Aceh lahir dari ingatan kolektif atas bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Sementara Masjid Hajjah Andi Nurhadi dibangun sebagai wakaf pribadi Amran Sulaiman yang dipersembahkan untuk mengenang ibundanya.

Dari Gelombang Tsunami hingga Kapal Pinisi

Museum Tsunami Aceh dirancang arsitek Ridwan Kamil melalui karya bertajuk Rumoh Aceh as Escape Hill, yang memenangkan sayembara desain internasional pada 2007.

Bangunan yang berlokasi di Jalan Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, itu memadukan filosofi rumah panggung tradisional Aceh, bentuk gelombang laut, dan kebutuhan akan ruang evakuasi ketika bencana terjadi.

Bagian luar museum menampilkan bidang melengkung dengan ornamen yang terinspirasi dari gerakan Tari Saman. Sementara susunan bangunannya menghadirkan kesan menyerupai kapal jika dilihat dari sudut tertentu.

Konsep tersebut tidak semata mengejar keindahan. Setiap elemen dirancang untuk menyampaikan pesan mengenai bencana, kebersamaan, harapan, dan daya tahan masyarakat Aceh. 

Pendekatan maritim juga ditemukan pada rancangan Masjid Hajjah Andi Nurhadi di kawasan Panaikang, Makassar, Sulawesi Selatan.

Berdasarkan publikasi detikSulsel pada 11 Oktober 2023, bentuk utama masjid tersebut merepresentasikan kapal pinisi, sebagai penghormatan terhadap tradisi pelayaran masyarakat Bugis-Makassar.

Masjid itu mengusung rancangan modern dengan komposisi bangunan melengkung, kubah berwarna emas, menara menjulang, serta kawasan terbuka yang direncanakan menjadi bagian dari fasilitas keagamaan dan sosial masyarakat. 

Di sinilah letak kemiripan yang menarik. Keduanya sama-sama mengangkat identitas maritim ke dalam rancangan bangunan monumental.

Jika Museum Tsunami Aceh menerjemahkan kekuatan gelombang laut sebagai bagian dari perjalanan sejarah masyarakat Aceh, Masjid Hajjah Andi Nurhadi menjadikan kapal pinisi sebagai simbol kebudayaan masyarakat Sulawesi Selatan.

Kesamaan pendekatan tersebut menghasilkan sejumlah kesan visual yang berdekatan, terutama pada penggunaan bentuk melingkar dan lengkung. Meski demikian, komposisi dan detail arsitektur keduanya tidak identik.

Museum Tsunami memiliki fasad bermotif Saman dan struktur yang dirancang mendukung evakuasi bencana. Masjid di Makassar tampil dengan identitas rumah ibadah yang lebih tegas melalui kubah emas dan menaranya.

Kesamaan visual itu juga tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa salah satu desain meniru bangunan lainnya. Belum ditemukan keterangan dari pihak perancang yang menghubungkan proses desain kedua bangunan secara langsung.

Dua Bangunan, Dua Cerita Emosional

Di luar persoalan bentuk, ada hubungan menarik lainnya, yakni latar belakang emosional yang mengiringi kelahiran kedua bangunan.

Museum Tsunami Aceh dibangun untuk menjaga ingatan terhadap ratusan ribu korban bencana sekaligus mengajarkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman serupa.

Di dalam bangunan itu terdapat lorong sempit dengan gemuruh air, ruang perenungan, dan fasilitas pembelajaran kebencanaan.

Ketika berkunjung ke museum pada 18 April 2026, Ridwan Kamil mengungkapkan bahwa Museum Tsunami Aceh merupakan salah satu karya yang paling emosional dalam perjalanan arsitekturnya.

Ia menjelaskan bangunan tersebut bukan hanya tempat mengenang masa lalu, melainkan juga sarana pendidikan agar masyarakat memahami bagaimana menghadapi ancaman bencana pada masa depan. 

Sementara di Makassar, Masjid Hajjah Andi Nurhadi memiliki kisah personal yang berbeda.

Nama masjid diambil dari nama ibunda Amran Sulaiman. Pembangunannya menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan amal jariah yang diharapkan terus memberikan manfaat kepada masyarakat.

Berdasarkan laporan terpublikasi berbagai media pada 24 September 2026, pembangunan masjid tersebut telah mencapai 98 persen. Humas PT Tiran Grup sekaligus Direktur AAS Foundation, Rezki Mulyadi, menyampaikan bahwa pemasangan kubah sudah selesai dan pekerjaan memasuki tahap penyelesaian interior serta eksterior.

Masjid yang mulai dibangun pada Oktober 2023 itu dilaporkan menelan anggaran sekitar Rp1 triliun dan direncanakan mampu menampung sekitar 20 ribu jemaah.

Pihak pengelola menyebut seluruh pendanaannya berasal dari wakaf pribadi Amran Sulaiman, tanpa menggunakan dana sponsor.

Pengelola menargetkan masjid tersebut dapat difungsikan paling lambat pada 2027. 

Tidak sekadar tempat salat, masjid itu juga dirancang menjadi pusat aktivitas keumatan dan pengembangan peradaban Islam di kawasan Indonesia Timur.

Kemiripan Bentuk, Perbedaan Makna

Dalam dunia arsitektur, penggunaan bentuk kapal, gelombang, dan pola melingkar bukan sesuatu yang asing. Unsur-unsur tersebut dapat muncul pada bangunan berbeda karena kesamaan pendekatan terhadap lingkungan, kebudayaan, maupun simbol yang hendak disampaikan.

Museum Tsunami Aceh dan Masjid Hajjah Andi Nurhadi memberikan contoh bagaimana arsitektur modern dapat menggunakan unsur maritim untuk menghasilkan bangunan yang memiliki karakter tersendiri.

Perbedaan paling mendasar justru terletak pada pesan yang ingin disampaikan.

Museum Tsunami Aceh berbicara tentang kehilangan, ingatan, dan harapan untuk bertahan hidup. Sementara Masjid Hajjah Andi Nurhadi menyampaikan pesan tentang pengabdian, penghormatan kepada orang tua, dan keberlanjutan manfaat bagi umat.

Keduanya juga memperlihatkan bagaimana sebuah bangunan dapat dirancang melampaui fungsi fisiknya. Museum menjadi ruang pembelajaran sejarah dan kebencanaan, sedangkan masjid diharapkan menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial.

Dari Banda Aceh hingga Makassar, arsitektur bukan semata urusan beton, lengkungan, kubah, ataupun kemegahan.

Ada cerita manusia yang melekat di balik setiap rancangan.

Barangkali itulah sisi paling menyentuh dari kedua bangunan ini. Yang satu dibangun agar manusia tidak melupakan mereka yang telah pergi karena bencana. Yang lain dibangun agar kasih seorang anak kepada ibunya terus hidup melalui manfaat bagi sesama.

Bentuk keduanya boleh mengingatkan satu sama lain. Namun, masing-masing menyimpan kisah yang tidak tergantikan. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI