Selasa, 30 Juni 2026
Beranda / Berita / Nasional / Pemerhati Pengasuhan Aceh: Kehadiran Ayah Bangun Rasa Aman dan Percaya Diri Anak

Pemerhati Pengasuhan Aceh: Kehadiran Ayah Bangun Rasa Aman dan Percaya Diri Anak

Selasa, 30 Juni 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Pemerhati Sosial Pengasuhan Keluarga di Aceh, Agus Agandi. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kehadiran seorang ayah dalam keluarga tidak hanya diukur dari kemampuannya memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga dari keterlibatannya secara emosional dalam kehidupan anak. Ayah yang hadir secara utuh diyakini mampu membangun rasa aman, kepercayaan diri, hingga karakter positif anak sejak dini.

Pemerhati Sosial Pengasuhan Keluarga di Aceh, Agus Agandi mengatakan makna kehadiran ayah tidak berhenti pada keberadaan fisik di rumah. Lebih dari itu, ayah harus mampu hadir secara emosional dengan memberikan perhatian, kasih sayang, dan menjadi tempat anak berbagi cerita.

"Ayah wajib hadir bukan hanya mengajak ayah berada di rumah, tetapi benar-benar hadir secara fisik dan psikis. Anak membutuhkan kehadiran emosional ayah, bukan hanya materi," ujar Agus kepada dialeksis.com, Selasa (30/6/2026).

Ia menilai, masih banyak ayah yang menganggap tugas pengasuhan selesai setelah memenuhi kebutuhan finansial keluarga. Padahal, perhatian sederhana seperti menyapa, mendengarkan cerita, atau menanyakan kabar anak justru memiliki dampak besar terhadap perkembangan psikologis mereka.

"Kadang ayah merasa cukup memberikan uang, jajan, atau gadget. Padahal yang paling dibutuhkan anak adalah perhatian sederhana seperti bertanya, 'Bagaimana kabarmu hari ini?' Hal itu meninggalkan kesan yang sangat dalam bagi seorang anak," katanya.

Ia menegaskan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh penghargaan cenderung memiliki rasa percaya diri lebih baik dibandingkan anak yang kurang mendapatkan perhatian emosional dari orang tuanya.

"Di keluargalah seseorang pertama kali belajar dicintai, dihargai, dan merasa aman. Ketika seorang anak merasa dihargai oleh ayah dan ibunya, maka itu menjadi bekal penting bagi kehidupannya di masa depan," jelasnya.

Menurut Agus, masih banyak orang tua yang berpikir bahwa anak membutuhkan sosok ayah yang sukses secara materi atau memiliki jabatan tinggi. Padahal, yang diinginkan anak justru kehadiran ayah dalam keseharian mereka.

"Anak tidak membutuhkan ayah yang sempurna. Mereka tidak peduli ayahnya pejabat, pengusaha, atau pekerja biasa. Yang mereka lihat adalah bagaimana ayah hadir ketika pulang ke rumah," ujarnya.

Ia menambahkan, pelukan, senyuman, atau sekadar mengusap kepala anak setelah pulang bekerja akan menjadi kenangan yang jauh lebih berharga daripada hadiah-hadiah mahal.

"Walaupun hanya lima menit, ketika ayah pulang lalu memeluk anaknya, menanyakan kabarnya, atau mengusap kepalanya, itu akan menjadi kenangan yang sangat berharga bagi anak," ungkap Agus.

Selain menjadi sumber rasa aman, Agus menilai ayah juga merupakan teladan pertama dalam membentuk karakter anak. Salah satunya melalui sikap ayah dalam memperlakukan istri. Menurutnya, anak akan meniru apa yang mereka lihat setiap hari di rumah.

"Kalau seorang ayah menghormati istrinya dan berbicara dengan baik kepada ibu dari anak-anaknya, maka anak akan belajar menghargai perempuan. Sebaliknya, jika ayah meremehkan atau menyakiti istrinya, anak juga akan belajar hal yang sama," katanya.

Karena itu, pendidikan karakter menurut Agus dimulai dari perilaku nyata orang tua dalam kehidupan sehari-hari, bukan semata-mata melalui nasihat.

Dalam kesempatan itu, Agus juga menyoroti semakin berkurangnya interaksi keluarga akibat penggunaan gawai. Ia menilai banyak keluarga sebenarnya memiliki waktu berkumpul, tetapi kehilangan momen berkualitas karena masing-masing sibuk dengan telepon genggam.

"Kadang semua berkumpul di rumah atau di warung kopi, tetapi ayah sibuk dengan gadget, ibu sibuk dengan gadget, anak juga sibuk dengan gadget. Akhirnya momen kebersamaan itu hilang," ujarnya.

Padahal, lanjut Agus, anak tidak membutuhkan waktu yang panjang, melainkan perhatian yang tulus. "Anak hanya ingin ditanya bagaimana sekolahnya, siapa temannya, pelajaran apa yang disukai, atau sekadar diajak bercerita. Hal-hal sederhana itu menjadi kebutuhan emosional anak," tutupnya. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes