DIALEKSIS.COM | Aceh - Piala Dunia 2026 yang biasanya menghadirkan pesta sepak bola penuh euforia di berbagai penjuru dunia, kali ini dinilai berlangsung dengan atmosfer yang lebih redup.
Pegiat sepak bola Aceh, Munawardi Ismail, menilai kemeriahan turnamen empat tahunan tersebut tidak lagi sekuat edisi-edisi sebelumnya karena berlangsung di tengah situasi global yang penuh tantangan.
Menurut Munawardi, Piala Dunia selama ini dikenal sebagai ajang yang mampu menyatukan masyarakat lintas negara dalam semangat kebersamaan dan kegembiraan. Namun kali ini, suasana dunia sedang tidak sepenuhnya mendukung.
“Kalau kita lihat, euforia Piala Dunia sekarang tidak sekuat dulu. Banyak negara masih dilanda perang, konflik kemanusiaan, dan ketidakpastian global. Di sisi lain, masyarakat di berbagai belahan dunia juga semakin sibuk menghadapi tekanan ekonomi dan kebutuhan hidup sehari-hari,” ujarnya kepada Dialeksis, Minggu (14/6/2026).
Selain faktor global, ia menilai minimnya gairah Piala Dunia kali ini juga dipengaruhi keterbatasan akses bagi pendukung dari sejumlah negara untuk datang langsung ke lokasi pertandingan. Ditambah lagi, sejumlah kebijakan Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah dinilai memunculkan ketidaknyamanan di kalangan tertentu.
Kondisi tersebut, kata Munawardi, membuat Piala Dunia tidak lagi hadir semata sebagai pesta olahraga, melainkan berlangsung di tengah realitas sosial dan politik yang cukup kompleks.
Dalam konteks Aceh, suasana yang relatif sepi juga dipengaruhi kondisi daerah yang masih fokus pada pemulihan pascabencana. Banyak masyarakat masih berkonsentrasi membantu sesama serta memperbaiki kehidupan yang terdampak.
“Di Aceh sendiri, kondisi kita juga belum ideal untuk merayakan Piala Dunia secara meriah. Banyak masyarakat masih fokus pada pemulihan pascabencana. Wajar kalau semangat menyambut Piala Dunia tidak semeriah sebelumnya,” kata pria yang menjadi promotor Martunis latihan sepakbola di Sporting Lisbon, Portugal pada 2014 silam.
Menurut Munawardi, perhatian masyarakat Aceh saat ini juga banyak tersedot pada berbagai isu politik dan ekonomi yang dinilai lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk pembahasan revisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) dan keberlanjutan dana otonomi khusus.
“Keberlanjutan otsus dan sejumlah hak Aceh sedang diperjuangkan melalui revisi UUPA. Ini tentu menjadi isu besar yang lebih dekat dengan kepentingan masyarakat dibanding euforia pertandingan sepak bola,” ujar yang juga jurnalis bola ini.
Meski demikian, Munawardi menegaskan masyarakat Aceh tidak kehilangan kecintaannya terhadap sepak bola. Menurutnya, turnamen baru berjalan pada fase awal sehingga atmosfer kompetisi belum sepenuhnya terasa.
“Bukan berarti orang Aceh tidak suka bola. Tetap suka dan tetap mengikuti. Hanya saja, suasana sosial kita sedang tidak mendukung untuk berpesta besar. Orang lebih banyak menonton dengan tenang bersama keluarga atau di ruang-ruang diskusi kecil,” katanya.
Ia meyakini antusiasme publik akan meningkat seiring bergulirnya turnamen ke fase-fase krusial.
“Piala Dunia baru berjalan beberapa hari dan masih babak penyisihan. Biasanya gairah mulai terasa ketika memasuki babak 16 besar, perempat final, hingga semifinal. Saat laga-laga besar tersaji, saya kira euforia itu akan kembali muncul,” ujarnya.
Munawardi berharap kondisi dunia dan Aceh segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali menikmati sepak bola sebagai hiburan yang menghadirkan kegembiraan dan kebersamaan.
“Sepak bola selalu punya daya satukan. Di tengah banyak persoalan, olahraga ini mengingatkan kita bahwa sportivitas, kebersamaan, dan harapan masih bisa dirawat. Semoga keadaan segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali merayakan sepak bola dengan rasa bahagia yang utuh,” tutup founder acehfootball itu. [arn]