Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Opini / Cara Belanda Menggunduli Hutan Aceh

Cara Belanda Menggunduli Hutan Aceh

Kamis, 29 Januari 2026 09:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Bisma Yadhi Putra

Bisma Yadhi Putra, peneliti sejarah. Foto: doc pribadi/Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Opini - Di markasnya yang dikelilingi pohon-pohon besar penghijau rimba tua, tak seorang pun prajurit Belanda menyadari para penggorok leher tengah mengincar mereka. Orang-orang Aceh yang mahir bergerak dengan sabar dan senyap dari balik pepohonan tiba-tiba masuk ke markas tanpa ketahuan, lalu menyerbu dari jarak dekat dengan tembakan maupun tikaman.

Kematian begini berulang kali terjadi di pos-pos pasukan Belanda yang dibangun di tengah maupun di tepi hutan Aceh. Para pejuang Aceh dengan cerdik memanfaatkan semak belukar serta pepohonan yang berjarak rapat untuk mendekati pos. Meskipun prajurit Belanda bersiaga, mereka sering gagal mendeteksi kedatangan lawan, terlebih di malam hari.

Komandan-komandan perang Belanda berpikir keras mencari cara untuk mematahkan taktik ini. Memindahkan pos ke luar kawasan hutan bukan pilihan. Solusi yang akhirnya dipilih adalah menciptakan area lapang di sekeliling pos agar prajurit Belanda bisa melihat siapa pun yang bergerak mendekati mereka.

Penentuan luas area lapang menggunakan jumlah langkah kaki. Area lapang biasanya dibuat seluas 600 hingga 800 langkah kaki dari pos. Semua pohon dalam radius tersebut ditebang rata. Aktivitas penebangan dilakukan dari jam enam pagi hingga tengah malam.

Ketika area lapang akhirnya tercipta, orang Aceh yang ingin merampas senjata di pos pasukan Belanda harus berlari sekurang-kurangnya 600 langkah kaki di area terbuka yang diawasi siang-malam. Mereka tak bisa lagi melakukan serangan frontal secara sembunyi-sembunyi. Bukan hanya pos di tengah hutan, pos di pinggir hutan juga diamankan dengan cara ini. Umpamanya di sebelah kiri pos adalah hutan, maka area hutan itu akan digunduli untuk memperluas jarak pandang.

Penggundulan hutan tersebut merupakan fakta yang dapat menantang anggapan sejumlah pihak bahwa Belanda tak pernah merusak hutan Aceh. Ketika pada November 2025 lalu bencana banjir-longsor melanda Aceh, banyak orang memaki pengusaha dan pejabat Indonesia yang berkongkalikong menghancurkan hutan Aceh. Makian itu disertai dengan perbandingan atas kebejatan Belanda. Banyak orang berpendapat: sebejat-bejatnya Belanda di masa lalu, Belanda tak pernah merusak hutan Aceh. Tak ada deforestasi di Aceh dalam periode kolonial. Alam Aceh baru dirusak setelah kemerdekaan oleh orang Indonesia sendiri. Demikian anggapan-anggapan yang terdengar.

Pembabatan hutan untuk penetingan militer membuktikan bahwa Belanda bertanggung jawab atas menyusutnya kawasan hijau di Aceh pada masa silam. Deforestasi ini terjadi secara sistematis, melibatkan pembagian tugas dan taktik khusus. Setiap kali markas atau pos militer baru harus dibangun di kawasan hutan, maka penyusutan luas hutan Aceh jadi tak terhindarkan.

Bukti atas kejahatan lingkungan itu dapat kita temukan dalam laporan George Frederik Willem Borel, seorang jenderal Belanda yang pernah bertugas di Aceh. Tempat Borel mengungkap metode dan tujuan Belanda menggunduli hutan Aceh adalah “Onze Vestiging in Atjeh”, sebuah buku setebal hampir empat ratus halaman yang terbit tahun 1878.

Bagi Borel, membangun bivak (perkemahan) maupun pos di kawasan hutan merupakan “kelalaian”. Dan kelalaian itu sering ditegur “dengan cara yang menyakitkan”, yakni kematian. Dalam sebuah peristiwa yang dicatat Borel, musuh yang datang dari balik pohon demi pohon berhasil membunuh sejumlah prajurit rendahan serta seorang perwira di sebuah bivak di tepi hutan. Borel yakin pasti lebih banyak yang tewas seandainya penyerangan itu dilakukan orang Aceh pada malam hari serta melibatkan kekuatan yang lebih besar.

“Setelah penyerangan itu segera diupayakan untuk memperbaiki kelalaian tersebut dengan menebangi area hutan di sebelah utara bivak agar terbuka,” tulis Borel.

Orang Aceh terkenal dengan kemahirannya dalam perang gerilya. Mereka datang, menyerang, lalu lari sambil berlindung di balik pohon-pohon agar tak tertembak. Untuk mematahkan taktik ini, yang harus dilakukan adalah menciptakan “ruang tembak” dengan “menebangi pohon-pohon dan semak-semak yang menghalangi pandangan”. Pohon-pohon raksasa tidak ditebang dengan parang atau kapak, melainkan ditumbangkan dengan bahan peledak.

Tanpa pepohonan, orang Aceh akan sulit mendekati pos Belanda tanpa ketahuan. Tanpa pepohonan, orang Aceh yang melarikan diri tak bisa berlindung dari terjangan peluru. Dan tanpa pepohonan yang mengelilingi markas, pasukan Belanda bisa leluasa menembakkan meriam ke arah gerombolan pejuang Aceh.

Meskipun penebangan pohon bertujuan untuk mengamankan pasukan, pekerjaan ini sebetulnya cukup berbahaya. Suara-suara tebasan begitu mudah terdengar di keheningan hutan sehingga bisa mengundang kematian. Prajurit Belanda yang sedang sibuk menebang pohon bisa saja tiba-tiba dipotong lehernya oleh pejuang Aceh yang datang diam-diam. Para komandan Belanda menyadari potensi bahaya ini. Oleh karenanya, setiap aktivitas penebangan di hutan harus melibatkan dua regu: regu penebang pohon dan regu pelindung. Anggota regu pelindung wajib lebih banyak daripada regu penebang.

Dengan formasi tersebut, artinya Belanda memadukan ayunan kapak serta tembakan senapan dalam operasi penggundulan hutan Aceh. Regu pelindung (Borel menyebutnya “detasemen pelindung”) yang bersenjata lengkap terlebih dahulu berangkat dari markas ke dalam hutan, lalu membentuk barisan pertahanan di tempat yang ditentukan. Selanjutnya, regu penebang yang dilengkapi kapak masuk ke hutan untuk melaksanakan tugas. Jauh di depan regu penebang, ada regu pelindung yang bersiaga. Regu pelindung bertugas membentengi regu penebang sehingga mereka harus mengambil posisi yang lebih jauh di dalam hutan.

Ketika pejuang Aceh menyerang, mereka akan ditembaki oleh regu pelindung, sementara regu penebang bisa terus melanjutkan pekerjaan tanpa gangguan. Hanya saja, Borel menyarankan agar kuli atau warga biasa tidak dilibatkan dalam regu penebang. Regu penebang sebaiknya murni beranggotakan prajurit terlatih. Alasannya, mental kuli dan mental tentara berbeda. Kuli tidak bisa diandalkan karena “mereka terlalu penakut”. Kuli pasti lari ketakutan waktu meletus kontak tembak antara regu pelindung dengan pejuang Aceh.

Meskipun ada regu pelindung, kenyataannya aktivitas penebangan tak selalu berjalan lancar, terutama ketika regu pelindung diserbu pejuang Aceh yang jumlahnya lebih banyak. Saat gempuran pejuang Aceh semakin keras, aktivitas penebangan terpaksa dihentikan. Para penebang mundur terlebih dahulu, kemudian disusul regu pelindung. Terkadang, regu pelindung kehabisan peluru ketika pejuang Aceh belum puas bertempur. Terkadang, setelah pertempuran sengit, para prajurit Belanda harus membawa pulang mayat kawan-kawan mereka.

Orang Aceh tak senang militer Belanda membabat hutan mereka. Penebangan terus-menerus bisa membuat tempat persembunyian mereka di tengah hutan jadi terbongkar. Ketika itu terjadi, tempat persembunyian terpaksa dipindahkan lebih jauh ke dalam hutan. Oleh karena itulah orang Aceh rajin menyerbu pasukan penebang hutan.

Serangan terhadap pasukan penebang hutan dilakukan dengan strategi yang tak disangka-sangka. Borel mengakui kecerdikan para pejuang Aceh. Mereka menunggu sampai pasukan Belanda menyelesaikan tugasnya. Ketika pekerjaan menciptakan area lapang baru saja selesai dan prajurit Belanda beristirahat, barulah serangan besar-besaran dilakukan. Prajurit Belanda yang terdesak akhirnya mundur berlari ke markasnya dengan melewati area lapang yang baru saja mereka buat. Di area lapang itulah banyak prajurit Belanda bisa ditembak dengan mudah oleh pejuang Aceh.

Para komandan Belanda tentu kesal karena area lapang yang mereka buat justru menjadi ladang pembantaian terhadap prajuritnya sendiri. Borel dengan jujur mengakui dampak dari kecerdikan orang Aceh: “Kami menderita cukup banyak kerugian”.

Semenjak Januari 1875, dua tahun setelah meletus Perang Aceh, strategi penebangan hutan diubah. Kali ini sebelum penebangan dilakukan, sebuah pasukan berkekuatan besar dikirim untuk menggempur sarang-sarang pejuang Aceh di tengah rimba raya. Target serangan besar-besaran ialah untuk membuat para pejuang Aceh lari menjauhi kawasan hutan yang hendak digundulkan.

Cara tersebut memang berhasil, tetapi banyak menguras anggaran. Orang-orang Belanda yang mendukung strategi “afwachtende” (taktik bertahan) mengkritik strategi baru yang agresif tersebut. Mereka berpendapat, alih-alih bikin perlawanan Aceh melemah, strategi menyerang justru membuat pejuang Aceh kian beringas serta kreatif dalam berperang. Pejuang Aceh mendesain macam-macam jebakan di dalam hutan yang berhasil membantai banyak prajurit Belanda.

Para pengkritik juga menentang strategi agresif karena bukan hanya kapak dan senapan yang dipakai. Api pun turut digunakan dalam strategi baru ini. Taktiknya: penebangan hutan dilakukan seraya melemahkan perjuangan rakyat Aceh dengan cara membakar makanan mereka, membakar padi yang baru dipanen, membakar rumah-rumah, dan membakar kampung-kampung. Bagi para pengkritik, tindakan ini tidak beradab karena menyebabkan kaum perempuan maupun anak-anak menjadi korban perang.

Namun, Borel tetap mendukung strategi baru, berapa pun ongkos yang harus dikeluarkan. Baginya, pengeluaran besar merupakan konsekuensi dari upaya memperluas wilayah kekuasaan. Semakin luas wilayah yang ingin dikuasai, semakin meningkat tembak-menembak dengan orang Aceh, sehingga semakin banyak tentara harus digaji serta peluru dibeli.

“Orang-orang Aceh tidak perlu disayangi,” kata Borel yang kemudian menegaskan: “Penebangan dan pembakaran adalah dua sarana utama untuk membantu menundukkan perlawanan Aceh”.

Penulis: Bisma Yadhi Putra, peneliti sejarah

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI