Minggu, 14 Juni 2026
Beranda / Opini / Saat Sastra Membuat Kita Sadar

Saat Sastra Membuat Kita Sadar

Sabtu, 13 Juni 2026 17:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Penulis :
Muhammad Aulia

Penulis Oleh: Muhammad Aulia Rahmat, Mahasiswa Sastra Daerah ISBI Jantho. Foto: doc Pribadi/Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Opini - Sastra dan budaya bukan sekadar ruang estetika. Keduanya adalah dua pilar penting yang membentuk identitas, cara berpikir, watak, dan mentalitas sebuah masyarakat. Melalui sastra, manusia belajar membaca kehidupan. Melalui budaya, manusia mengenal akar, nilai, dan arah keberadaannya.

Dalam kehidupan kampus, terutama bagi mahasiswa, sastra dan budaya memiliki peran yang sangat strategis. Keduanya menjadi ruang refleksi sosial sekaligus medium ekspresi intelektual. Mahasiswa tidak hanya diajak untuk memahami teori, tetapi juga membaca realitas yang bergerak di sekitarnya yaitu ketimpangan, keresahan sosial, perubahan nilai, hingga kegelisahan manusia modern yang kerap tersembunyi di balik hiruk-pikuk zaman.

Melalui karya sastra, diskusi, pertunjukan seni, dan aktivitas kebudayaan lainnya, mahasiswa dapat mengasah kepekaan. Ia belajar melihat sesuatu tidak hanya dari permukaan, tetapi juga dari lapisan makna yang lebih dalam. Sastra memberi ruang bagi pertanyaan, sementara budaya memberi pijakan agar manusia tidak kehilangan arah.

Namun, di tengah kemajuan teknologi digital yang begitu cepat, kita berhadapan dengan tantangan besar. Arus globalisasi dan budaya instan telah mengubah banyak hal dalam kehidupan sosial. Nilai-nilai lama seperti gotong royong, solidaritas, dan kedekatan antarindividu mulai tergeser oleh pola hidup yang serba cepat, individualistik, dan dangkal.

Media sosial dan platform digital memang memberi kemudahan akses informasi. Tetapi pada saat yang sama, ia juga dapat mengikis kedalaman berpikir. Banyak fenomena sosial hanya menjadi bahan konsumsi sesaat, dibagikan, dikomentari, lalu dilupakan tanpa refleksi yang cukup. Akibatnya, kepekaan sosial perlahan melemah. Empati menjadi tipis. Cara berpikir kritis pun sering kali kalah oleh kecepatan arus informasi.

Kondisi ini patut menjadi perhatian bersama, khususnya di kalangan mahasiswa. Sebab mahasiswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mahasiswa juga harus mampu menjadi pembaca zaman. Ia perlu memiliki kemampuan berpikir terbuka, kritis, reflektif, dan eksploratif terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya.

Di sinilah sastra dan budaya kembali menemukan relevansinya. Sastra dapat membangunkan kesadaran individu yang merasa dirinya dipinggirkan, ditipu, atau dikerdilkan oleh sistem sosial, dunia kerja, maupun ruang-ruang kreatif yang tidak sehat. Budaya dapat mengingatkan manusia bahwa ia tidak hidup sendiri, melainkan berada dalam jaringan nilai, sejarah, dan tanggung jawab sosial.

Kesadaran semacam ini tidak lahir secara tiba-tiba. Ia perlu ditumbuhkan melalui pertemuan, bacaan, pergaulan, permainan, dialog, dan pengalaman bersama. Mahasiswa perlu kembali menggali potensi dasar yang ada dalam dirinya. Bukan hanya potensi akademik, tetapi juga potensi imajinatif, sosial, dan kemanusiaan.

Seminar bertema “Membangun Kesadaran Kolektif yang Kritis dan Eksploratif melalui Sastra dan Budaya” menjadi penting dalam konteks tersebut. Seminar ini tidak semestinya hanya dipahami sebagai kegiatan akademik biasa, melainkan sebagai ruang perjumpaan gagasan. Di dalamnya, mahasiswa, akademisi, dan pelaku seni-budaya dapat berdialog secara terbuka, intim, dan reflektif.

Ruang semacam ini dibutuhkan agar kampus tidak menjadi tempat yang kaku. Kampus harus hidup sebagai ruang tumbuhnya kesadaran, keberanian berpikir, dan kebebasan berekspresi. Dari sana, mahasiswa dapat belajar bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga harus berguna bagi perubahan sosial, sekecil apa pun bentuknya.

Sastra dan budaya dapat menjadi jembatan antarbidang ilmu. Apa yang dipelajari dari dosen di setiap semester tidak boleh berhenti sebagai catatan akademik semata. Ia perlu diuji dalam kehidupan, dipertemukan dengan realitas, lalu diterjemahkan dalam tindakan yang berdampak nyata. Baik dalam kehidupan sosial, politik, seni, maupun ruang-ruang kemanusiaan lainnya.

Karena itu, harapan terhadap seminar ini tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia harus menjadi pemantik lahirnya atmosfer baru yang lebih enerjik, kritis, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Mahasiswa perlu didorong untuk tidak menjadi generasi yang pasif, apalagi tunduk pada keadaan. Mahasiswa harus berani membaca, bertanya, menggugat, dan menciptakan.

Kita membutuhkan mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki jiwa sosial yang kuat. Kita membutuhkan pelaku seni yang tidak tunduk pada tirani. Kita membutuhkan pemikir muda yang berani menjaga kebebasan imajinasi dan kemurnian nurani.

Sebab pada akhirnya, sastra dan budaya bukan hanya tentang teks, panggung, bahasa, atau tradisi. Sastra dan budaya adalah tentang bagaimana manusia memahami dirinya, masyarakatnya, dan zamannya. Ketika dunia semakin bising oleh informasi, sastra mengajarkan kita untuk hening dan merenung. Ketika kehidupan semakin keras dan dingin, budaya mengingatkan kita untuk tetap manusiawi.

Dari kesadaran itulah perubahan dapat dimulai. Tidak harus besar. Tidak harus riuh. Cukup dimulai dari keberanian membaca realitas, merawat empati, dan menolak menjadi manusia yang acuh terhadap keresahan di sekitarnya.

Penulis Oleh: Muhammad Aulia Rahmat, Mahasiswa Sastra Daerah ISBI Jantho

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI