DIALEKSIS.COM | Sosok - Bagi dr. Muhammad Asroruddin, Sp.M., dunia kedokteran menyimpan banyak cerita tentang manusia. Ada harapan, kecemasan, kehilangan, dan perjuangan. Pertemuan dengan pengalaman-pengalaman itulah yang ikut menghidupkan keinginannya menulis.
Dokter spesialis mata ini menekuni kepenulisan selama lebih dari dua dekade. Jejaknya membentang dari cerita pendek di surat kabar dan majalah, kontribusi dalam berbagai antologi, novel digital, hingga buku yang diterbitkan penerbit nasional.
“Menulis adalah cara untuk menyimpan gagasan, pengalaman, keresahan, bahkan kegembiraan,” kata Asroruddin dalam wawancara eksklusif dengan Dialeksis, 3 Oktober 2026.
Ia bercerita kepada Dialeksis, bahwa keinginannya menulis berangkat dari kesadaran bahwa banyak hal yang dialami layak dibagikan. Dunia kedokteran mempertemukannya dengan pasien dan keluarga mereka, beserta persoalan yang membuatnya semakin dekat dengan cerita manusia.
Karena itu, menurut Asroruddin, langkah awal menulis adalah menemukan sesuatu yang benar-benar dipedulikan. Dari kepedulian tersebut, seseorang memiliki alasan untuk menyampaikan gagasan dan menjaga kemauannya berkarya.
Perjalanan itu tergambar dalam portofolio yang dibagikannya kepada Dialeksis. Pada 2003, cerpennya berjudul From Baghdad with Love dimuat di Pontianak Post. Dua tahun kemudian, NGAYAT hadir di Majalah Annida.
Tahun 2006 menjadi bagian lain dari jejak tersebut. Ia menulis Busway Shar-E di Majalah Annida, serta Burut Si Berot dan Takbir Bergema di Atas Kapal di Pontianak Post. Dari cerita-cerita pendek, keberaniannya berkembang menuju karya yang lebih panjang.
Selanjutnya melaju di tahun 2018, ia berkontribusi dalam antologi Doa Ibu di Penghujung Malam dan Secangkir Kopi di Pagi Hari terbitan Rumedia. Setahun berikutnya, karyanya hadir dalam Silent Victim dan It’s My Greget melalui penerbit yang sama.
Ia juga menjajal ruang digital. Dengan karyanya DESIBEL: Ada Cinta di Britania hadir di platform Storial Indonesia pada 2020. Sementara itu, Kemarau di Sedanau tercatat dalam portofolionya sebagai novel digital di Gramedia Writing Project pada 2021.
Novel Kemarau di Sedanau kemudian terbit melalui Bhuana Ilmu Populer pada 2023 dengan nama penulis Asroruddin Zoechni. Kisahnya mengikuti Salman, remaja dari Sedanau, Natuna, yang berjuang merantau dan menempuh pendidikan kedokteran di tengah berbagai tekanan hidup.
Karya tersebut mengantarkannya meraih pengakuan dalam dunia kepenulisan. Forum Lingkar Pena menetapkan Kemarau di Sedanau sebagai pemenang kategori Fiksi Terpuji dalam Anugerah Pena FLP 2025. Pada ajang yang sama, buku kesehatan yang ditulisnya bersama rekan-rekannya masuk nominasi Nonfiksi Terpuji.
Jejak antologinya pun terus bertambah lagi melalui karya Jejak-Jejak Pengabdian pada 2021; Menemukan Jalan Pulang, Takbiran bersama Gol A Gong, dan Dua Sisi pada 2022; disusul Diagnosis pada 2023 serta Sang Guru pada 2024. Portofolionya juga mencantumkan Kehilangan dari Penerbit ANDI, dengan keterangan masih dalam proses terbit ketika daftar itu disusun.
Bahkan sesuatu baru dilakukan Asroruddin sapaan akrab dirinya bersama sejawat profesi melahirkan karya buku Computer Vision Syndrome dan Tip Mata Sehat di Era Digital, terbitan Penerbit Buku Kompas. Buku yang ditulis bersama dr. Affannul Hakim dan dr. Risa Muthmainah itu membahas persoalan kesehatan mata dalam penggunaan perangkat digital.
Rangkaian karya tersebut tumbuh melalui proses belajar. Asroruddin mengaku memulainya dari tulisan pendek, opini, dan refleksi sebelum berani menulis buku serta novel. Ia memahami keraguan yang kerap membuat seseorang menunda menulis karena merasa bahasanya belum cukup bagus.
“Jangan menunggu menjadi penulis untuk mulai menulis. Menulislah, maka perlahan-lahan kita akan menjadi penulis,” ujarnya.
Ia menempatkan kebiasaan sebagai bekal utama. Meluangkan sepuluh atau lima belas menit setiap hari, menurutnya, dapat membantu kemampuan menulis tumbuh secara bertahap. Tulisan pertama boleh sederhana, kemudian diperbaiki melalui proses membaca dan menyunting.
Baginya, menulis juga menjadi latihan empati. Ketika membangun tokoh dengan pengalaman dan latar belakang berbeda, seorang penulis berusaha memahami cara orang lain melihat kehidupan. Proses itu dirasakannya berharga dalam menjalani profesi dokter.
“Kedokteran membutuhkan ilmu pengetahuan, tetapi pelayanan kesehatan juga membutuhkan kemampuan mendengarkan manusia,” tuturnya.
Ia memandang kedokteran dan kepenulisan saling memperkaya. Pengalaman sebagai dokter memberi bahan perenungan, sedangkan menulis membantunya melatih kepekaan terhadap pengalaman orang lain.
Kesadaran itu ikut mendorongnya membangun ruang bersama melalui Dokter Kalbar Menulis. Ia ingin membuka kesempatan bagi dokter untuk mengekspresikan gagasan melalui berbagai bentuk tulisan.
“Dokter juga bisa menulis esai, opini, cerita pendek, puisi, bahkan novel,” katanya.
Dalam pandangannya, komunitas membantu menjaga keberanian dan konsistensi. Anggotanya dapat saling membaca, berdiskusi, memberi masukan, serta menyemangati ketika proses menulis terasa sulit.
Asroruddin melihat ketakutan berbuat salah, kebiasaan membaca yang belum kuat, dan sulitnya mempertahankan konsistensi sebagai tantangan dalam membangun budaya menulis. Antusiasme setelah mengikuti pelatihan perlu ditopang lingkungan yang memberi kesempatan untuk terus berkarya.
Tantangan tersebut semakin kompleks di era digital. Kesempatan menerbitkan tulisan terbuka luas melalui media daring, blog, dan media sosial. Pada saat yang sama, arus informasi yang cepat membuat perhatian mudah berpindah sebelum sebuah gagasan dipahami secara utuh.
Menurutnya, menulis dapat melatih seseorang untuk berhenti sejenak, menyusun pemikiran, memeriksa fakta, dan mempertimbangkan sudut pandang lain. Kebiasaan itu penting agar pendapat disampaikan secara bertanggung jawab.
Ia tetap optimistis melihat anak muda. Keberanian mereka membicarakan kesehatan mental, lingkungan, pendidikan, disabilitas, dan budaya lokal merupakan modal bagi perkembangan literasi.
“Jangan buru-buru mengatakan tulisan anak muda dangkal. Ajak mereka membaca lebih jauh,” ujarnya.
Asroruddin mendorong generasi yang lebih senior menyediakan pendampingan dan apresiasi. Kegemaran menulis takarir atau unggahan pendek dapat dikembangkan menjadi esai, artikel, hingga karya yang lebih panjang.
Sekolah, kampus, komunitas, media, dan lembaga profesi, menurutnya, perlu menyediakan ruang bagi proses tersebut. Apresiasi bisa dimulai dari hal sederhana: membaca karya pemula dengan sungguh-sungguh, mendiskusikannya, dan memberi masukan yang membuat penulisnya ingin belajar.
Setelah menempuh perjalanan dari cerpen hingga buku, pesan Asroruddin kepada mereka yang baru memulai tetap sederhana. Tulislah cerita yang paling dekat dengan kehidupan sendiri. Satu paragraf dapat menjadi awal untuk halaman-halaman berikutnya.
“Saya sendiri belajar bahwa perjalanan menulis sering kali dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana yaitu keberanian untuk menulis kalimat pertama.” []