DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Bagi Nisfun Nahar, musik bukan semata urusan nada dan suara. Di balik setiap lirik yang dilantunkan, ada pesan yang ingin disampaikan, ada ketenangan yang hendak ditumbuhkan, dan ada nilai kebaikan yang diharapkan sampai ke hati pendengar.
Lelaki ramah itu akrab disapa Anis itu memilih nasyid sebagai ruang untuk menyalurkan kecintaannya terhadap seni sekaligus dakwah. Dalam wawancara eksklusif bersama Dialeksis, Anis bercerita tentang kedekatannya dengan musik religi, masa depan nasyid di Aceh, hingga pentingnya membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda.
Bagi Anis, nasyid memiliki posisi berbeda dibandingkan sekadar musik hiburan. Syair-syair di dalamnya membawa pesan mengenai kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, nasihat kehidupan, akhlak, serta ajakan kepada kebaikan.
“Nasyid bagi saya bukan sekadar sebuah lagu, tetapi merupakan sarana untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan melalui seni. Ada nilai dakwah, nasihat, kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, serta pesan-pesan kehidupan yang terkandung di dalamnya,” ujar Anis kepada Dialeksis.
Kekuatan nasyid, menurut dia, justru terletak pada kemampuannya menyampaikan pesan agama dengan pendekatan yang lembut. Sebuah nasihat yang mungkin terasa berat ketika disampaikan secara langsung dapat menyentuh hati ketika hadir melalui rangkaian lirik dan melodi.
“Saya mencintai nasyid karena melalui lantunan syair, kita bisa menyentuh hati seseorang, mengajak kepada kebaikan, dan menyampaikan pesan Islam dengan cara yang indah,” katanya.
Ada kepuasan tersendiri bagi Anis ketika sebuah lagu tidak berhenti pada tepuk tangan atau keindahan vokal. Musik menjadi lebih berarti apabila mampu menghadirkan ketenangan, inspirasi, bahkan mendorong perubahan positif bagi orang yang mendengarkannya.
“Bagi saya pribadi, ada kebahagiaan tersendiri ketika lagu yang kita nyanyikan bukan hanya enak didengar, tetapi juga mampu memberikan ketenangan, inspirasi, dan perubahan positif bagi orang yang mendengarkannya. Itulah yang membuat saya terus mencintai dan menekuni dunia nasyid,” ujarnya.
Kecintaan terhadap seni yang memiliki nilai ibadah itulah yang kemudian membuat Anis semakin serius menekuni nasyid.
Ia meyakini setiap orang memiliki jalan masing-masing dalam menyampaikan kebaikan. Sebagian melalui pendidikan, tulisan, ceramah atau kerja sosial. Bagi Anis, seni suara menjadi salah satu jalannya.
Pilihan tersebut terasa semakin relevan karena ia hidup di Aceh, daerah yang mempunyai identitas Islam serta tradisi keagamaan yang mengakar kuat di tengah masyarakat.
“Terlebih lagi, kita berada di Aceh, sebuah daerah yang memiliki identitas Islam dan tradisi keagamaan yang kuat. Saya melihat nasyid sebagai salah satu media yang dapat menjadi bagian dari upaya menjaga nilai-nilai keislaman tersebut, khususnya melalui generasi muda,” katanya.
Anis pun tak ingin hanya dikenal sebagai penyanyi. Ada tanggung jawab lain yang menurutnya jauh lebih penting: memastikan suara yang dimiliki dapat memberikan manfaat kepada orang lain.
“Sebab bagi saya, yang paling penting bukan hanya seberapa merdu suara kita, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa diberikan melalui suara tersebut,” tuturnya.
Nasyid dan Tantangan Zaman
Anis melihat masa depan nasyid di Aceh masih terbuka lebar. Daerah ini, menurutnya, mempunyai modal sosial dan budaya yang cukup kuat untuk menjadikan nasyid sebagai salah satu identitas seni Islami.
Selain karakter masyarakat yang dekat dengan nilai keagamaan, Aceh juga memiliki tradisi seni Islam serta banyak anak muda berbakat di bidang tarik suara dan musik.
Persoalannya, nasyid kini berhadapan dengan perubahan selera dan pola konsumsi musik masyarakat. Generasi muda hidup di tengah arus platform digital, media sosial, serta beragam genre musik yang menawarkan kemasan visual dan musikal semakin modern.
Karena itu, menurut Anis, nasyid tidak boleh berhenti pada pola lama.
“Tantangannya adalah bagaimana kita mampu menyesuaikan nasyid dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya,” katanya.
Nasyid, kata dia, perlu dikemas secara lebih kreatif melalui aransemen yang segar, produksi musik berkualitas, hingga pemanfaatan media digital.
Namun pembaruan tidak boleh membuat nasyid kehilangan ruhnya.
“Modernisasi tersebut harus tetap menjaga substansi nasyid, yaitu pesan kebaikan, nilai-nilai Islam, dan akhlak yang terkandung di dalam syairnya,” ujarnya.
Anis berharap musik nasyid dari Aceh kelak tidak hanya berputar di lingkungan komunitas atau acara keagamaan tertentu. Ia ingin nasyid mampu menjangkau pendengar lebih luas sekaligus tampil sebagai salah satu identitas seni Islam Aceh pada tingkat nasional.
Merebut Hati Generasi Muda
Di tengah derasnya musik populer, Anis tetap optimistis generasi muda dapat menjadi kekuatan baru bagi perkembangan nasyid.
Namun ia menilai pendekatan terhadap anak muda harus berubah. Generasi muda tidak cukup hanya diminta mencintai nasyid. Para pegiat nasyid juga perlu menghadirkan karya yang dekat dengan kehidupan dan bahasa zaman mereka.
“Kita tidak bisa hanya meminta anak muda untuk mencintai nasyid. Kita juga harus menghadirkan nasyid yang dekat dengan kehidupan mereka, baik dari segi musik, lirik, penampilan, maupun media penyampaiannya,” katanya.
Menurut Anis, generasi muda justru mempunyai potensi besar untuk membawa nasyid memasuki ruang-ruang baru. Mereka tidak hanya dapat berperan sebagai penyanyi, tetapi juga pencipta lagu, penata musik, videografer, produser, hingga kreator konten digital.
Karena itu, ruang keterlibatan menjadi penting.
“Tugas kita bukan sekadar mengajak mereka mendengarkan nasyid, tetapi juga memberikan ruang agar mereka terlibat langsung dalam perkembangannya,” ujarnya.
Ia percaya nilai kebaikan tidak pernah menjadi sesuatu yang usang. Tantangannya hanya bagaimana nilai itu disampaikan dengan bahasa yang dapat diterima setiap generasi.
“Nilai-nilai kebaikan itu tidak pernah ketinggalan zaman. Yang perlu kita perbarui adalah cara menyampaikannya,” kata Anis.
Pemerintah Diminta Beri Ruang
Anis juga berharap Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kota Banda Aceh memberikan perhatian lebih serius terhadap perkembangan nasyid sebagai bagian dari seni budaya Islami.
Menurut dia, dukungan tersebut dapat dimulai dengan memberikan panggung kepada kelompok maupun penyanyi nasyid dalam kegiatan pemerintah, festival keagamaan, peringatan hari besar Islam, hingga agenda kepemudaan.
Festival dan kompetisi nasyid juga dinilai perlu digelar secara berkelanjutan, mulai dari sekolah hingga tingkat kabupaten/kota dan provinsi.
Melalui pola tersebut, regenerasi pegiat nasyid dapat terus berlangsung.
Selain panggung pertunjukan, Anis memandang pemerintah perlu memikirkan pembinaan yang lebih sistematis, seperti pelatihan vokal, penguatan kemampuan bermusik, peningkatan kualitas produksi, serta dukungan promosi dan digitalisasi.
Sekolah, pesantren, perguruan tinggi, komunitas seni, dan organisasi kepemudaan juga dapat dilibatkan agar nasyid tidak sekadar hadir sebagai pertunjukan sesaat.
“Saya berharap pemerintah tidak hanya melihat nasyid sebagai hiburan dalam sebuah acara, tetapi juga sebagai salah satu media dakwah, pembinaan generasi muda, dan pelestarian nilai-nilai keislaman,” katanya.
Bagi Anis, membicarakan masa depan nasyid pada akhirnya bukan hanya berbicara soal industri musik atau panggung pertunjukan.
Ada sesuatu yang lebih besar yang hendak dijaga: kesinambungan pesan kebaikan melalui seni.
“Karena pada akhirnya, membangun seni nasyid bukan hanya tentang membangun industri musik, tetapi juga tentang menjaga warisan kebaikan agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” pungkas Nisfun Nahar. [red]