Minggu, 25 Oktober 2026
Beranda / Sumatera Pulih / 85 Hektare Sawah di Aceh Utara Kembali Produktif Usai Satgas PRR Pulihkan Irigasi

85 Hektare Sawah di Aceh Utara Kembali Produktif Usai Satgas PRR Pulihkan Irigasi

Minggu, 25 Oktober 2026 07:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Petani di Desa Ulee Madon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh saat memanen padi. [Foto: Dok. Tim Media Satgas PRR]


DIALEKSIS.COM | Lhoksukon - Upaya pemerintah memulihkan sektor pertanian pascabencana Sumatera, mulai dirasakan petani. Di Desa Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, bahkan sudah panen perdana usai pemulihan tersebut.

Jaringan irigasi direhabilitasi, membuat sekitar 85 hektare dari total 105 hektare persawahan kembali terairi. Sejumlah petani pun telah memasuki panen perdana setelah aktivitas pertanian sempat terhenti selama sekitar enam bulan.

Upaya pemulihan infrastruktur pascabencana juga perlu disertai langkah antisipasi agar hasil rehabilitasi dapat bertahan ketika bencana kembali terjadi.

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, mengingatkan bahwa bencana susulan dapat menghambat pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Infrastruktur yang telah diperbaiki berisiko mengalami kerusakan kembali, sementara material yang sudah dibersihkan dapat menumpuk lagi.

“Sudah dibangun, jembatannya terseret lagi. Jalannya sudah dibangun, longsor lagi. Tumpukan lumpur yang sudah dibersihkan numpuk lagi di beberapa tempat,” kata Tito dalam konferensi pers pada agenda rapat koordinasi Satgas PRR di Kemendagri, Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2026).

Tito Karnavian menegaskan bahwa pemulihan pascabencana juga dilihat pada aspek wilayah terdampak bisa aman dan produktif lagi, termasuk pengendalian sungai.

“Variabel yang kita lihat bukan hanya pengungsi, tapi juga sungai, sawah, tambak, dan infrastruktur lainnya. Semua itu menjadi bagian dari pemulihan,” kata Kasatgas Tito Karnavian.

Pemulihan menjadi bagian penting mengembalikan produktivitas pertanian dan menopang perekonomian masyarakat yang terdampak banjir pada akhir November 2025. Ketersediaan air yang kembali normal memungkinkan petani melanjutkan aktivitas budidaya setelah lahan dan jaringan pengairan mereka terganggu endapan lumpur.

Penanganan lanjutan masih perlu lanjutan terutama pada lahan yang terdapat endapan lumpur. Termasuk saluran pembuang untuk mengendalikan air yang berlebih ketika hujan kembali turun.

Irigasi Pulih, Petani Kembali Menggarap Sawah

M. Nur (56), petani Desa Ulee Madon yang menggarap satu hektare sawah, mengaku kembali dapat menjalankan aktivitas pertanian setelah jaringan irigasi diperbaiki dengan bantuan pemerintah pusat.

Enam bulan lamanya ia tidak bisa menggarap sawahnya karena banjir dan pengairan yang terganggu. Kondisi itu turut memengaruhi kebutuhan rumah tangganya. Walau lahan ada, tapi dia terpaksa membeli beras ketika tidak dapat mengandalkan hasil panen sendiri.

“Kita sebagai masyarakat sudah kembali menggarap seperti semula karena irigasi sudah ada,” ujar M. Nur.

Ia menjelaskan, musim tanam telah selesai dan kini sawahnya memasuki masa panen. Dengan kondisi pengairan yang kembali normal, ia berharap produksi pertanian dapat berlanjut pada musim-musim tanam berikutnya.

Menurutnya, sawah seluas satu hektare yang dikelolanya biasanya menghasilkan sekitar tujuh ton gabah dalam sekali panen.

Bagi petani, pulihnya jaringan irigasi bukan sekadar perbaikan infrastruktur. Ketersediaan air memungkinkan mereka kembali berproduksi, mengurangi ketergantungan pada pembelian beras, dan memulihkan sumber penghidupan yang sempat terganggu akibat bencana.

Satgas PRR Ingatkan Pentingnya Antisipasi Bencana Berulang

Upaya pemulihan infrastruktur pascabencana juga perlu disertai langkah antisipasi agar hasil rehabilitasi dapat bertahan ketika bencana kembali terjadi.

Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Kasatgas PRR) Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, mengingatkan bahwa bencana susulan dapat menghambat pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi. Infrastruktur yang telah diperbaiki berisiko mengalami kerusakan kembali, sementara material yang sudah dibersihkan dapat menumpuk lagi.

“Sudah dibangun, jembatannya terseret lagi. Jalannya sudah dibangun, longsor lagi. Tumpukan lumpur yang sudah dibersihkan numpuk lagi di beberapa tempat,” kata Tito dalam konferensi pers pada agenda rapat koordinasi Satgas PRR di Kemendagri, Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2026).

Peringatan tersebut menegaskan pentingnya pemulihan yang tidak hanya berfokus pada penyelesaian pekerjaan fisik, tetapi juga memperhitungkan risiko bencana berulang. Dalam sektor pertanian, upaya itu dapat didukung melalui pemeliharaan jaringan irigasi, penanganan sedimentasi, serta pembenahan saluran pembuang agar kelebihan air dapat dialirkan dengan baik.

Dengan demikian, rehabilitasi infrastruktur pertanian diharapkan tidak hanya mengembalikan fungsi sawah dalam jangka pendek, tetapi juga mendukung keberlanjutan produksi ketika petani menghadapi musim hujan berikutnya.

Pemulihan Sawah Masuk Agenda Rehabilitasi Sumatra

Pemulihan persawahan di Ulee Madon sejalan dengan agenda rehabilitasi sektor pertanian dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatra.

Dokumen tersebut merencanakan rehabilitasi 27.483 hektare sawah rusak ringan dan 13.425 hektare sawah rusak sedang. Penanganannya mencakup rehabilitasi lahan dan jaringan irigasi, penyediaan benih serta sarana produksi, pendampingan teknis bagi petani, dan penguatan kapasitas kelompok tani.

Pada sektor infrastruktur ekonomi, rencana aksi juga mencantumkan pembangunan atau revitalisasi jaringan irigasi sepanjang 423,21 kilometer dengan kebutuhan anggaran Rp846,42 miliar. Selain itu, pembangunan atau revitalisasi jalan pertanian sepanjang 412,78 kilometer direncanakan dengan kebutuhan anggaran Rp1.444,73 miliar.

Berdasarkan Laporan Harian Satgas PRR per 22 Oktober 2026 yang merujuk data Kementerian Pertanian, sebanyak 57.171 hektare sawah terdampak bencana di 19 kabupaten/kota di Aceh. Kerusakan tersebut terdiri atas 27.483 hektare kategori ringan, 13.405 hektare kategori sedang, dan 16.283 hektare kategori berat.

Dalam progres pemulihan, target penanganan tercatat seluas 31.464 hektare. Dari jumlah tersebut, 28.706 hektare atau 91,23 persen telah memasuki proses konstruksi, sedangkan 21.412 hektare atau sekitar 68 persen tercatat telah selesai konstruksi.

Menjaga Produktivitas untuk Musim Tanam Berikutnya

Di Desa Ulee Madon, kembalinya pengairan dan dimulainya panen menjadi perkembangan positif setelah petani melewati masa sulit akibat banjir. Dari total 105 hektare persawahan, sekitar 85 hektare kini kembali terairi, meski sebagian lahan masih membutuhkan penanganan lanjutan.

Perbaikan jaringan irigasi yang telah dilakukan pemerintah menjadi modal penting bagi pemulihan aktivitas pertanian. Namun, keberlanjutan manfaatnya juga bergantung pada pemeliharaan infrastruktur, penanganan endapan lumpur, dan pembenahan saluran pembuang untuk mengurangi risiko genangan.

Bagi M. Nur dan petani lainnya, pulihnya sawah berarti terbukanya kembali kesempatan untuk menghasilkan gabah dan memenuhi kebutuhan rumah tangga dari hasil pertanian sendiri.

Karena itu, keberhasilan pemulihan tidak hanya diukur dari selesainya pekerjaan rehabilitasi, tetapi juga dari kemampuan lahan kembali produktif, pengairan tetap berfungsi, dan petani dapat melanjutkan usaha taninya dari satu musim tanam ke musim berikutnya. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
esdm 3