Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Tajuk / Pulangnya Sang Karang Ditengah Badai

Pulangnya Sang Karang Ditengah Badai

Minggu, 01 Maret 2026 10:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

As-Sayyid Syarif Ali Hosseini Khamenei Al-Husaini pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran. Foto: ist/net


DIALEKSIS.COM | Tajuk - Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Hari itu, sejarah dunia mencatat sebuah titik balik yang memilukan. Sosok yang selama puluhan tahun berdiri tegak sebagai simbol perlawanan terhadap hegemoni global, Ayatollah Ali Khamenei, telah mengembuskan napas terakhirnya. Beliau gugur bukan dalam kesendirian, melainkan bersama putri, cucu, dan menantunya sebuah pengorbanan keluarga yang teramat besar akibat serangan "main keroyokan" yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat di jantung Teheran .

Pemerintah Iran melalui televisi nasional mengumumkan duka nasional 40 hari. Api perlawanan, kata mereka, takkan padam. Tapi yang tak bisa dimungkiri yakni sebuah era telah usai. Seorang negarawan yang tangannya cacat demi revolusi, yang dadanya penuh luka perjuangan, kini telah beristirahat untuk selama-lamanya .

Gugur Sebagai Syuhada, Bukan Pecundang. Bagi para pendukungnya, ini bukanlah kekalahan. Pulangnya Sang Rahbar (Pemimpin) di tengah dentuman bom musuh justru mengukuhkan statusnya sebagai pemimpin yang tak pernah lari. Ia bertahan hingga napas terakhir di tanah air, menghadapi ancaman yang sudah menghantuinya sejak zaman tujuh Presiden Amerika yang lalu.

Analis politik dari CGTN, Tang Zhichao, menyebut serangan ini bukan sekadar operasi militer biasa. "Ini adalah hasil rencana matang. AS dan Israel sudah putus asa dengan negosiasi," katanya. "Tujuannya jelas perubahan rezim" .

Selama 37 tahun memimpin, Khamenei telah membuktikan bahwa satu orang ulama yang teguh bisa membuat negara adidaya kelimpungan. Ia meninggalkan warisan berupa keberanian untuk berkata "Tidak" pada penindasan. Sebuah prinsip yang kini telah mengakar di hati jutaan orang, meski nyawanya harus menjadi taruhan.

Banyak yang bertanya, "Bagaimana nasib Iran setelah ini?" Di tengah kabut asap dan duka, penting bagi dunia untuk memahami bahwa Republik Islam Iran bukanlah negara yang dibangun di atas pasir. Secara politik dan konstitusi, negeri para Mullah ini memiliki mekanisme baku yang sangat kuat untuk menjamin keberlanjutan kepemimpinan mereka.

Mekanisme suksesi sudah diatur dalam konstitusi. Ada Dewan Ahli (Assembly of Experts) , sebuah majelis berisi 88 ulama senior yang dipilih rakyat. Merekalah yang secara konstitusional bertugas memilih Pemimpin Tertinggi selanjutnya .

Memang, dalam situasi perang, proses ini tak mudah. Nama-nama seperti Ayatollah Alireza Arafi, Mohsen Qomi, atau Gholam Hossein Mohseni Ejei disebut-sebut sebagai kandidat kuat. Bahkan ada wacana soal putra Khamenei, Mojtaba, meskipun para pengamat menilai suksesi berbasis garis darah bertentangan dengan tradisi Syiah .

Namun, yang pasti, mesin politik Iran tidak akan berhenti. Transisi akan berjalan, meskipun dalam suasana duka 40 hari. Ini memastikan bahwa meskipun Sang Nakhoda telah tiada, kapal besar bernama Republik Islam Iran tidak akan karam.

Di luar Iran, dunia bersiap menghadapi guncangan. Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev dengan sinis menulis di media sosial, "Kekaisaran Persia berusia 2.500 tahun. AS baru 249 tahun. Mari kita lihat 100 tahun lagi" .

Sementara itu, Oman yang selama ini menjadi mediator merasa dikhianati. Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, menyatakan dirinya "kecewa berat. Negosiasi aktif dirusak oleh tindakan ini," ujarnya.

Dunia mungkin kehilangan salah satu arsitek geopolitik paling berpengaruh di abad ini. Apakah perlawanan akan melemah? Atau justru sebaliknya, darah para syuhada akan menjadi pupuk bagi perlawanan baru? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Satu hal yang pasti di tengah badai yang masih mengamuk, Sang Karang telah pulang. Selamat jalan, Pemimpin. Sejarah akan menuliskan namamu dengan tinta emas sebagai pemimpin yang tak mampu ditundukkan oleh ancaman, sanksi, maupun gempuran rudal, hingga maut sendiri yang menjemputmu dalam kemuliaan.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI