DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, mengingatkan para tenaga pendidik agar menjalankan tugas pendidikan dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.
Menurutnya, setiap guru dan tenaga kependidikan harus memiliki prinsip mendidik anak orang lain sebagaimana mereka ingin anaknya sendiri dididik.
Pesan tersebut disampaikan Murthalamuddin dalam sebuah kegiatan konsolidasi daerah pendidikan menengah dan atas di Aceh yang dilansir media dialeksis.com, Jumat, 6 Maret 2026.
“Ajarkan anak orang lain sebagaimana anak Anda ingin diajarkan. Tidak ada satu pun orang tua yang ingin anaknya dididik secara asal-asalan,” ujar Murthalamuddin.
Ia menilai bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga merupakan amanah besar yang menentukan masa depan generasi Aceh.
Karena itu, para pendidik diminta menanamkan nilai tanggung jawab moral dalam setiap proses pembelajaran.
Murthalamuddin menjelaskan bahwa pelayanan pendidikan harus dilakukan dengan hati. Prinsip ini, kata dia, sejalan dengan nilai pelayanan publik yang mengedepankan empati dan ketulusan kepada masyarakat.
“Layanilah orang lain sebagaimana Anda ingin dilayani. Begitu juga dalam dunia pendidikan, didiklah anak orang lain sebagaimana Anda ingin anak Anda dididik,” katanya.
Menurutnya, pendekatan pendidikan yang dilakukan dengan hati akan melahirkan suasana belajar yang lebih manusiawi dan bermakna bagi para siswa.
Guru tidak hanya menjadi penyampai materi pelajaran, tetapi juga menjadi teladan bagi para peserta didik dalam membangun karakter dan akhlak.
Murthalamuddin juga mengingatkan agar seluruh lembaga pendidikan di bawah kewenangan Dinas Pendidikan Aceh menjalankan proses pembelajaran sesuai dengan standar ilmu pendidikan dan aturan yang berlaku.
Ia menegaskan tidak boleh ada praktik pendidikan yang dilakukan secara sembarangan atau tidak sesuai dengan prinsip profesionalitas.
Bahkan, ia meminta para guru dan masyarakat untuk melaporkan apabila menemukan lembaga pendidikan yang tidak menjalankan proses pembelajaran dengan baik.
“Saya mohon kepada bapak dan ibu, jika menemukan lembaga di bawah kami yang tidak melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan kaidah pendidikan, silakan sampaikan kepada kami,” tegasnya.
Ia menilai pengawasan dari masyarakat juga sangat penting untuk memastikan mutu pendidikan di Aceh terus terjaga. Menurutnya, pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau guru semata.
Lebih jauh Murthalamuddin menegaskan bahwa visi pembangunan pendidikan di Aceh tidak boleh berhenti pada masa kepemimpinannya saja.
Ia berharap sistem pendidikan yang dibangun saat ini mampu melahirkan generasi yang kuat, berkarakter, dan memiliki daya saing di masa depan.
Menurutnya, jabatan yang ia emban saat ini hanyalah amanah sementara. Namun tanggung jawab untuk memperbaiki dan memajukan pendidikan harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Saya tidak akan selamanya menjadi pejabat. Tetapi tanggung jawab memajukan pendidikan ini harus terus dilanjutkan. Kita ingin memastikan anak-anak Aceh ke depan memiliki kekuatan dalam pendidikan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga semangat dan marwah pendidikan Aceh. Menurutnya, Aceh memiliki sejarah panjang sebagai pusat keilmuan di masa lalu, sehingga semangat tersebut harus kembali dihidupkan melalui pendidikan yang berkualitas.
“Semangat Aceh pulih dan marwah Aceh harus kita jaga melalui pendidikan yang baik. Karena masa depan daerah ini sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya,” jelas Murthalamuddin.