DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Lantunan Selawat Badar mengiringi kedatangan Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy di panggung utama Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Jumat (9/10/2026) malam. Ribuan jemaah berkumpul mengikuti pembukaan Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II, sebuah pertemuan yang membawa pesan persatuan dan perdamaian dari Aceh.
Berdasarkan pemantauan Dialeksis di lokasi, rangkaian pembukaan diisi pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan, khutbah iftitah, peluncuran buku, hingga zikir dan doa bersama. Jumlah kehadiran diperkirakan sekitar 10.000 orang, mencakup ulama, tamu undangan, dan jemaah dari berbagai daerah serta delegasi mancanegara.
Mengusung tema “Mengangkat Ajaran Sufi untuk Persatuan dan Perdamaian Umat”, kegiatan ini dihadiri delegasi dari 13 negara, yakni Indonesia, Turki, Maroko, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Arab Saudi, Kamboja, Mesir, Palestina, Filipina, dan Suriah.
Di antara jemaah yang hadir terdapat perwakilan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) dari 23 kabupaten/kota di Aceh. Peserta dari luar Aceh juga datang dari sejumlah wilayah, termasuk Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Ternate.
Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Aceh, Taufik, membuka kegiatan mewakili Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Hadir pula perwakilan Polda Aceh, Kodam Iskandar Muda, anggota DPRA, serta para ulama dan pimpinan MPTT-I.
Dalam sambutan gubernur yang dibacakan Taufik, Pemerintah Aceh menekankan bahwa tasawuf memiliki pesan penting untuk kehidupan bersama: membersihkan hati, menghaluskan akhlak, menahan ego, dan menghormati sesama.
“Ilmu yang tinggi tanpa kerendahan hati dapat melahirkan kesombongan, sementara ibadah yang banyak tanpa akhlak dapat kehilangan makna sosialnya,” ujar Taufik saat membacakan sambutan tersebut.
Pesan itu dikaitkan dengan pengalaman Aceh membangun perdamaian. Kesediaan saling memahami dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok menjadi nilai yang diharapkan terus tumbuh melalui pertemuan para ulama.
Pemerintah Aceh juga mengingatkan kedekatan daerah ini dengan tradisi keilmuan tasawuf, melalui warisan pemikiran tokoh seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Syekh Abdurrauf As-Singkili, dan Nuruddin Ar-Raniri.
“Semoga pertemuan ini tidak berhenti sebagai forum diskusi saja, akan tetapi melahirkan gagasan dan gerakan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh umat,” demikian harapan gubernur dalam sambutan yang dibacakan Taufik.
Ketua Umum MPTT-I, Abi Sahal Tastari Waly, menyampaikan penghargaan kepada para ulama dan jemaah yang datang dari berbagai penjuru. Ia berharap muzakarah menjadi ruang untuk memperkuat pembelajaran dan pengamalan tauhid tasawuf sekaligus mengharumkan nama Aceh di mata dunia.
Abi Sahal juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Aceh, aparat keamanan, panitia, dan masyarakat yang membantu pelaksanaan kegiatan.
Sementara itu, dalam khutbah iftitah, Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy menekankan pentingnya memahami agama secara utuh melalui Islam, iman, dan ihsan.
Ia menjelaskan bahwa pengamalan tasawuf berkaitan dengan pembentukan akhlak, keikhlasan beribadah, serta upaya membersihkan hati dari kedengkian dan kesombongan. Abuya juga mengajak jemaah menjaga persatuan dan memanfaatkan muzakarah untuk memperdalam pemahaman melalui paparan para ulama.
Rangkaian pembukaan turut ditandai dengan peluncuran buku Kemanisan Beragama karya Abuya Amran Waly. Abi Sahal menyebut buku tersebut merupakan karya ketujuh Abuya, yang lahir dari kegiatan menulis risalah selama hampir dua dekade.
Menurut Abi Sahal, buku itu memuat sambutan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Saat membacakan sambutan tersebut, ia menyampaikan pesan tentang pentingnya dimensi ihsan yang tercermin dalam akhlak, kepedulian, dan kehidupan bersama.
Untuk mendukung pelaksanaan muzakarah pada 9 - 11 Oktober 2026, sebanyak 1.820 personel gabungan disiapkan, terdiri atas unsur Polri, TNI, Satpol PP, Dinas Perhubungan, dan pemadam kebakaran. Pengamanan internal turut didukung 250 personel Khadam Ummat.
Menjelang akhir acara, jemaah mengikuti zikir bersama yang dipandu Abah Sayid Fairus Satar. Abuya Amran Waly kemudian memimpin doa sebelum rangkaian pembukaan ditutup sekitar pukul 22.30 WIB. Pesan tentang kebersihan hati, persaudaraan, dan perdamaian menjadi benang merah pertemuan malam itu. [Dialeksis]