DIALEKSIS.COM | Kutacane - Banjir menerjang tiga desa di dua kecamatan di Kabupaten Aceh Tenggara setelah hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang mengguyur wilayah tersebut sejak Kamis (24/9/2026) sore.
Berdasarkan laporan terbaru Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Aceh Tenggara, sebanyak 124 kepala keluarga atau 479 jiwa terdampak. Tidak dilaporkan adanya korban jiwa maupun warga yang mengungsi.
Tiga desa terdampak yakni Desa Peseluk Pesimbe dan Desa Lembah Alas di Kecamatan Deleng Pokhkison, serta Desa Kuning I di Kecamatan Bambel.
Banjir mulai terjadi sekitar pukul 19.00 WIB. Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang berlangsung sejak sore menyebabkan debit Sungai Lawe Kisam dan Sungai Lawe Kinga meningkat signifikan.
Derasnya arus Sungai Lawe Kisam kemudian menyebabkan tanggul di Desa Peseluk Pesimbe jebol. Air sungai meluap hingga mencapai permukiman warga dan lahan pertanian di sekitar kawasan tersebut.
Dampak lain terjadi di kawasan Jembatan Kuning I, Kecamatan Bambel. Luapan banjir membawa lumpur dan material kayu ke badan jalan nasional.
Endapan lumpur bercampur material kayu dilaporkan mencapai ketebalan sekitar 35 hingga 45 sentimeter. Kondisi itu membuat kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas dan sempat menyebabkan kemacetan hingga sekitar dua kilometer.
Gangguan pada ruas jalan nasional tersebut membuat arus transportasi di kawasan Kuning I praktis lumpuh saat banjir terjadi.
Pusdalops-PB BPBD Aceh Tenggara melaporkan petugas langsung melakukan kaji cepat sekaligus mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) ke sejumlah titik terdampak untuk melakukan pendataan dan penanganan.
Satu unit alat berat jenis excavator juga diterjunkan ke Desa Peseluk Pesimbe. Alat berat difokuskan untuk membantu penanganan tanggul Sungai Lawe Kisam yang jebol.
Sementara di kawasan jalan nasional, penanganan dilakukan terhadap material lumpur dan kayu yang terbawa banjir dan menghambat arus kendaraan.
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tenggara, Mohd. Asbi, ST., MM, dalam laporan Pusdalops menyebut kondisi air telah surut. Kendati demikian, petugas masih melakukan pemantauan, pendataan, dan dokumentasi dampak bencana di lapangan.
Hingga laporan terbaru diterima, tidak terdapat korban jiwa maupun warga yang mengungsi akibat bencana tersebut.
Peristiwa ini kembali memperlihatkan kerentanan sejumlah kawasan di Aceh Tenggara terhadap luapan sungai ketika hujan berintensitas tinggi terjadi. Selain mengancam permukiman dan lahan pertanian, luapan air juga dapat mengganggu konektivitas jalan nasional yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat.
BPBD Aceh Tenggara masih melakukan monitoring terhadap perkembangan kondisi di wilayah terdampak serta penanganan infrastruktur yang mengalami kerusakan.