DIALEKSIS.COM | Washington - Perusahaan keamanan siber asal Amerika Serikat, CrowdStrike, memperingatkan adanya peningkatan aktivitas serangan siber yang diduga dilakukan oleh entitas yang berafiliasi dengan China untuk memperoleh teknologi kecerdasan buatan (AI) dan memperkecil kesenjangan teknologi dengan Amerika Serikat.
Dalam laporan yang dirilis Selasa (10/6/2026), CrowdStrike menyebut lebih dari 58 persen serangan siber yang didukung negara dan menargetkan perusahaan teknologi ditujukan untuk memperoleh aset AI serta kekayaan intelektual terkait.
“Kelompok yang terkait dengan China meningkatkan aktivitas spionase terhadap organisasi teknologi untuk mencuri kemampuan AI dan kekayaan intelektual yang tidak dapat mereka kembangkan sendiri dengan cukup cepat,” demikian pernyataan CrowdStrike.
Analisis tersebut mencakup berbagai insiden yang terjadi dalam periode 12 bulan hingga 31 Maret 2026.
Menurut CrowdStrike, pembatasan yang diterapkan Amerika Serikat terhadap akses China terhadap chip berteknologi tinggi untuk pelatihan AI turut memengaruhi upaya pengembangan teknologi negara tersebut. Di tengah keterbatasan itu, perusahaan-perusahaan AI China terus berupaya meningkatkan kemampuan model mereka dengan biaya operasional yang lebih rendah.
Laporan itu juga menemukan bahwa kelompok siber yang berafiliasi dengan China menargetkan sistem komunikasi pemerintah di kawasan Asia Tenggara serta berusaha mempertahankan akses jangka panjang ke sejumlah organisasi teknologi di Amerika Utara melalui pemanfaatan celah keamanan.
Hingga laporan ini ditulis, Administrasi Ruang Siber China belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait temuan tersebut.
Sebelumnya, perusahaan AI Amerika Serikat, Anthropic dan OpenAI, juga menyampaikan kekhawatiran mengenai dugaan upaya sejumlah perusahaan China untuk memperoleh informasi kompetitif dari perusahaan teknologi AS. Namun, sejumlah analis menilai batas antara praktik pengumpulan informasi dan aktivitas ilegal dalam persaingan teknologi masih menjadi perdebatan.
Dalam perkembangan lain, Anthropic baru-baru ini memperkenalkan model AI terbaru yang memiliki kemampuan siber dan mulai digunakan oleh CrowdStrike serta sejumlah perusahaan lain. Pada Selasa, Anthropic juga merilis versi publik model tersebut yang diberi nama Claude Fable 5.
Selain ancaman yang terkait dengan China, CrowdStrike mengungkap adanya aktivitas dari kelompok yang berafiliasi dengan Korea Utara yang berupaya menyusup ke tenaga kerja teknologi informasi (TI) di Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Upaya tersebut diduga bertujuan menghasilkan pemasukan bagi rezim Korea Utara. [ec-cnbc]