Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Saudi vs UEA Memanas di Yaman, Hadramout Jadi Titik Api Baru

Saudi vs UEA Memanas di Yaman, Hadramout Jadi Titik Api Baru

Sabtu, 03 Januari 2026 12:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Konvoi penguatan Pasukan Sabuk Keamanan Yaman yang didominasi oleh anggota Dewan Transisi Selatan (STC) yang mengupayakan kemerdekaan bagi Yaman selatan. Foto: Saleh Al-OBEIDI/AFP.


DIALEKSIS.COM | Yaman - Ketegangan antara dua kekuatan besar kawasan Teluk, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), kembali memanas di Yaman. Kali ini, eskalasi konflik terjadi di Provinsi Hadramout, wilayah strategis di timur Yaman.


Gubernur Hadramout yang didukung Arab Saudi, Salem Ahmed Saeed al-Khunbashi, pada Jumat (2/1/2026) mengumumkan dimulainya operasi militer untuk mengambil alih sejumlah posisi strategis yang saat ini dikuasai Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) yang mendapat dukungan UEA.


Langkah ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik Yaman, sekaligus memperlihatkan secara terbuka keretakan hubungan antara Riyadh dan Abu Dhabi yang mulai mencuat sejak Desember lalu. Dua negara yang sebelumnya menjadi pilar utama koalisi militer di Yaman kini menghadapi benturan kepentingan, mulai dari pengaruh geopolitik hingga kepentingan ekonomi, termasuk kuota produksi minyak.


Pemerintah Yaman yang didukung Saudi secara resmi menunjuk al-Khunbashi sebagai pemegang kendali penuh atas pasukan Homeland Shield (Perisai Tanah Air). Gubernur diberikan otoritas militer, keamanan, serta administrasi secara menyeluruh untuk memulihkan stabilitas di Hadramout.


“Ini bukan deklarasi perang,” tegas al-Khunbashi dalam pidato yang disiarkan televisi nasional Yaman. Ia menyebut operasi tersebut bersifat damai dan bertujuan mencegah penyalahgunaan fasilitas militer yang berpotensi mengancam keamanan serta menjaga Hadramout dari kekacauan.


Namun, pernyataan itu tidak meredakan ketegangan. Juru bicara STC, Mohammed al-Naqeeb, melalui platform X menyatakan bahwa seluruh pasukan STC berada dalam status siaga penuh. Ia juga memperingatkan akan adanya respons keras jika pihaknya diserang.


Ketegangan di darat turut berdampak pada sektor transportasi udara. Bandara Internasional Aden”gerbang utama Yaman di luar wilayah kekuasaan Houthi”dilaporkan lumpuh total sejak Kamis hingga Jumat. Penutupan bandara terjadi di tengah saling tuding antara pihak yang bertikai.


Duta Besar Arab Saudi untuk Yaman, Mohammed Al-Jaber, menuduh pimpinan STC, Aidarus Al-Zubaidi, secara sengaja menolak izin pendaratan pesawat yang membawa delegasi Saudi yang hendak mencari solusi atas krisis tersebut.


Sebaliknya, Kementerian Perhubungan yang berada di bawah kendali STC menuding Riyadh memberlakukan blokade udara dengan mewajibkan seluruh penerbangan menuju Aden transit terlebih dahulu melalui Arab Saudi untuk pemeriksaan tambahan.


Perselisihan terbuka antara dua raksasa minyak dunia ini memicu kekhawatiran global, khususnya terkait stabilitas produksi minyak. Arab Saudi dan UEA merupakan aktor kunci dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC).


Ketidakharmonisan di antara keduanya dikhawatirkan dapat menghambat tercapainya konsensus terkait kebijakan produksi minyak mentah. Padahal, delapan negara anggota OPEC+ dijadwalkan menggelar pertemuan daring pada Minggu mendatang untuk membahas kebijakan produksi kuartal pertama. Sejauh ini, para delegasi memperkirakan kebijakan produksi akan dipertahankan, meski friksi geopolitik di Yaman berpotensi menjadi faktor pengganggu pasar.


Pekan lalu, UEA mengumumkan penarikan sisa pasukannya dari Yaman setelah Arab Saudi secara terbuka mendesak agar pasukan Abu Dhabi angkat kaki dalam waktu 24 jam. Meski langkah tersebut sempat meredakan ketegangan sesaat, konflik antara faksi-faksi lokal yang didukung kedua negara di lapangan justru terus berlanjut dan kian meruncing.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI