DIALEKSIS.COM | Haiti - Sedikitnya 70 orang tewas dan 30 lainnya terluka dalam serangan brutal di dekat Petite-Riviere, wilayah Artibonite -- lumbung pangan utama Haiti. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding laporan resmi awal yang menyebut sekitar 16 korban jiwa.
Serangan terjadi sejak dini hari Minggu di kawasan pedesaan sekitar Jean-Denis dan berlanjut hingga Senin (30/3/2026). Kelompok bersenjata menyerbu permukiman warga dan membakar rumah-rumah.
Kelompok HAM Defenseurs Plus memperkirakan sekitar 6.000 orang mengungsi akibat kekerasan tersebut. Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya mencatat lebih dari 2.000 warga telah meninggalkan rumah mereka dalam beberapa hari terakhir akibat serangan serupa.
Perbedaan data korban sempat terjadi. Polisi awalnya melaporkan 16 tewas dan 10 luka-luka, sementara otoritas perlindungan sipil mencatat 17 tewas dan 19 luka-luka. PBB melalui kantor BINUH menyebut jumlah korban kemungkinan berada di kisaran 10 hingga 80 orang dan mendesak penyelidikan menyeluruh.
Defenseurs Plus menilai minimnya respons keamanan menunjukkan kegagalan otoritas dalam melindungi wilayah Artibonite dari kelompok bersenjata.
Serangan ini diduga terkait konflik antar geng. Pesan audio yang dikaitkan dengan pemimpin geng Gran Grif, Luckson Elan, menyebut aksi tersebut sebagai balasan atas serangan terhadap markas mereka di Savien.
Wilayah Artibonite sendiri menjadi salah satu titik kekerasan terparah di Haiti, di mana konflik geng kini meluas dari ibu kota Port-au-Prince ke daerah lain. Polisi menyatakan telah mengerahkan kendaraan lapis baja, meski terhambat kondisi jalan yang dirusak geng.
Diperkirakan sekitar 50 rumah dibakar dalam insiden ini.
Menurut PBB, hampir 20.000 orang telah tewas di Haiti sejak 2021 akibat kekerasan geng. Lebih dari 1,4 juta warga kini mengungsi, memperparah krisis ekonomi dan pangan di negara tersebut. [reuters/aljazeera]