Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Stok Rudal AS Menipis Usai Perang Iran, Pertahanan Mulai Terancam

Stok Rudal AS Menipis Usai Perang Iran, Pertahanan Mulai Terancam

Kamis, 23 April 2026 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Serangan terhadap Iran tak hanya menunjukkan kekuatan Amerika Serikat di panggung global, tetapi juga membuka potensi kelemahan dalam industri pertahanannya. Foto: Ist/net


DIALEKSIS.COM | Washington - Kekuatan militer Amerika Serikat (AS) disebut mulai menghadapi tekanan serius setelah penggunaan besar-besaran amunisi dalam perang melawan Iran. Sejumlah analis dan sumber internal Pentagon mengungkapkan, stok rudal utama AS mengalami penurunan signifikan dan berpotensi menimbulkan “risiko jangka pendek” jika konflik besar kembali terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

Berdasarkan analisis terbaru dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), selama tujuh pekan terakhir perang, militer AS telah menghabiskan sekitar 45 persen persediaan Precision Strike Missile. Selain itu, lebih dari 50 persen rudal THAAD dan hampir setengah stok rudal Patriot juga telah digunakan.

Data tersebut disebut sejalan dengan penilaian rahasia Pentagon, yang menunjukkan bahwa kemampuan pertahanan AS kini berada dalam kondisi lebih rentan.

Meski Pentagon telah meneken sejumlah kontrak baru untuk meningkatkan produksi rudal, para ahli menilai proses pengisian ulang stok membutuhkan waktu lama, yakni antara tiga hingga lima tahun.

4 Faktor Melemahnya Pertahanan AS

1. Butuh Waktu Lama Pulihkan Stok Rudal

Dalam jangka pendek, AS dinilai masih memiliki cukup amunisi untuk melanjutkan operasi militer jika konflik dengan Iran kembali memanas. Namun, stok yang tersisa tidak cukup untuk menghadapi kekuatan besar lain seperti China.

Analis CSIS, Mark Cancian, menyebut penggunaan amunisi dalam jumlah besar telah membuka celah kerentanan baru, terutama di kawasan Indo-Pasifik.

“Dibutuhkan satu hingga empat tahun untuk mengisi kembali persediaan ini, dan lebih lama lagi untuk memperluasnya,” ujarnya.

Sementara itu, juru bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan militer AS masih siap menjalankan operasi kapan pun diperlukan.

2. Produksi Tidak Bisa Dikebut Cepat

Selain rudal utama, AS juga telah menghabiskan sekitar 30 persen stok Tomahawk, lebih dari 20 persen JASSM, serta sekitar 20 persen rudal SM-3 dan SM-6.

Penggantian sistem-sistem ini diperkirakan memakan waktu hingga lima tahun, meskipun kapasitas produksi ditingkatkan.

Hal ini kontras dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang sebelumnya menyebut AS tidak kekurangan senjata. Namun, ia juga mengakui pemerintah tengah meminta tambahan anggaran untuk memperkuat stok amunisi.

3. Dukungan ke Israel dan Ukraina Ikut Menguras Stok

CSIS juga menyoroti bahwa pasokan senjata AS tidak hanya digunakan untuk perang dengan Iran, tetapi juga untuk mendukung Israel dan Ukraina.

Sebelum konflik pecah, para pejabat militer AS telah memperingatkan bahwa operasi berkepanjangan dapat menggerus persediaan, terutama untuk sistem pertahanan udara.

4. Dampak ke Stabilitas Kawasan Timur Tengah

Kekhawatiran juga datang dari kalangan politik di Washington. Sejumlah anggota Kongres menilai penggunaan amunisi dalam skala besar dapat melemahkan posisi pertahanan AS di Timur Tengah.

Senator Mark Kelly menyebut Iran memiliki kemampuan produksi drone dan rudal dalam jumlah besar.

“Pada akhirnya ini soal matematika”bagaimana kita bisa terus memasok ulang amunisi pertahanan udara,” ujarnya.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang kesiapan militer AS menghadapi konflik besar berikutnya, terutama jika terjadi dalam waktu dekat.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI