DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Aktivis dan pengamat isu sosial di Aceh, Iskandar, menilai penemuan cadangan gas di Blok Andaman merupakan peluang besar yang dapat menjadi fondasi kebangkitan ekonomi Aceh.
Namun, potensi tersebut hanya akan memberikan manfaat maksimal apabila pemerintah daerah mampu membangun strategi investasi yang tepat dan mendorong pengembangan industri hilirisasi di Aceh.
Menurut Iskandar, masyarakat Aceh memandang Blok Andaman sebagai harapan baru karena memiliki pengalaman sejarah sebagai daerah penghasil gas melalui Lapangan Arun. Meski demikian, pengalaman masa lalu juga menjadi pelajaran penting agar pengelolaan sumber daya alam tidak lagi hanya menghasilkan keuntungan bagi pihak luar.
"Kalau melihat Andaman dari kacamata Aceh, ini adalah sumber masa depan yang secara nyata bisa menghasilkan kemakmuran. Aceh pernah merasakan masa kejayaan ketika ada gas Arun, sehingga masyarakat memiliki keyakinan bahwa potensi seperti ini mampu menghadirkan kesejahteraan," kata Iskandar kepada wartawan dialeksis.com, Senin (13/7/2026).
Ia menilai, pengalaman pengelolaan gas Arun juga menyisakan pelajaran berharga. Menurutnya, sebagian masyarakat masih memandang bahwa manfaat yang diterima Aceh dari pengelolaan sumber daya alam di masa lalu belum sepenuhnya mencerminkan rasa keadilan.
"Karena merujuk pada pengalaman masa lalu, sebagian masyarakat melihat Arun bukan hanya sebagai simbol kejayaan, tetapi juga menyisakan catatan bahwa manfaat yang diterima Aceh belum sepenuhnya adil. Oleh sebab itu, Andaman menjadi mimpi masa depan yang diharapkan mampu membawa kemakmuran yang benar-benar dirasakan masyarakat Aceh," ujarnya.
Iskandar mengatakan, untuk mewujudkan harapan tersebut, Aceh tidak cukup hanya menjadi daerah penghasil gas. Pemerintah Aceh harus mengambil peran strategis dalam menarik investor agar bersedia menanamkan modalnya di daerah, khususnya pada sektor hilirisasi.
Menurutnya, keberadaan cadangan gas Andaman dapat menjadi daya tarik utama bagi investor untuk membangun industri berbasis energi di Aceh.
"Andaman harus menjadi modal bagi Aceh untuk meyakinkan investor bahwa daerah ini memiliki sumber energi yang menjanjikan. Setelah itu, Aceh harus mencari investor yang bersedia membangun industri hilirisasi dari produk gas Blok Andaman sehingga nilai tambahnya tetap berada di Aceh," katanya.
Ia juga menilai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun memiliki posisi strategis untuk mendukung pengembangan industri tersebut. Infrastruktur yang telah tersedia di kawasan itu dinilai dapat dimanfaatkan sebagai pusat pengolahan gas maupun industri turunan lainnya.
"KEK Arun adalah aset yang sudah dimiliki Aceh. Kawasan ini harus dimanfaatkan sebagai bagian penting dalam pengembangan industri berbasis gas Andaman sehingga tidak hanya menjual gas mentah, tetapi juga menghasilkan produk bernilai tambah," ucapnya.
Namun demikian, Iskandar mengingatkan bahwa keberhasilan menarik investasi tidak hanya bergantung pada potensi sumber daya alam. Menurutnya, Aceh juga harus mampu memberikan kepastian hukum, kenyamanan, dan keamanan bagi para investor.
"Yang tidak kalah penting adalah Aceh harus memastikan kenyamanan dan keamanan investasi. Investor akan datang jika mereka melihat adanya kepastian dan iklim usaha yang kondusif," katanya.
Ia mendorong berbagai pihak, termasuk Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Aceh serta Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Aceh, untuk berperan aktif mempromosikan peluang investasi kepada calon investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
"KADIN Aceh harus bergerak bersama HIPMI untuk mencari investor yang bersedia berinvestasi di sektor hilirisasi. Selain itu, Aceh juga bisa meminta kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang mengelola Blok Andaman agar turut membantu menghadirkan investor lain yang memiliki ketertarikan membangun industri di Aceh," ujar Iskandar.
Iskandar yang juga merupakan Koordinator Lapangan Yayasan Geutanyoe, sebuah lembaga kemanusiaan non-pemerintah yang berbasis di Aceh, berharap momentum pengembangan Blok Andaman tidak hanya berakhir pada eksplorasi dan produksi gas semata, tetapi mampu menjadi penggerak lahirnya kawasan industri baru, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh secara berkelanjutan.
Iskandar berharap tim yang dibentuk Pemerintah Aceh dapat bergerak cepat menyusun langkah-langkah strategis untuk mengawal pengelolaan Blok Andaman agar memberikan manfaat maksimal bagi daerah.
"Saya berharap tim dari Pemerintah Aceh benar-benar bergerak cepat. Jangan sampai Aceh hanya menjadi penonton. Tim ini harus aktif membangun komunikasi dengan pemerintah pusat, kontraktor migas, dan calon investor agar hilirisasi gas bisa dilakukan di Aceh. Momentum Blok Andaman ini tidak akan datang dua kali, sehingga harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kepentingan masyarakat Aceh," kata Iskandar. [nh]