Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Ferry Irwandi Bongkar Penyebab Rupiah Tembus Rp17.500

Ferry Irwandi Bongkar Penyebab Rupiah Tembus Rp17.500

Kamis, 14 Mei 2026 08:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Kreator konten edukasi ekonomi Indonesia, Ferry Irwandi. Foto: Tangkapan layar Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kreator konten edukasi ekonomi Indonesia, Ferry Irwandi, mengulas penyebab melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang kini menyentuh level Rp17.500 per dolar AS.

Melalui video di kanal YouTube pribadinya berjudul “Mengapa Rupiah Terus Melemah?” yang telah ditonton lebih dari 507.677 kali per 13 Mei 2026, Ferry menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terjadi akibat kombinasi berbagai faktor yang saling berkaitan, bukan karena satu penyebab tunggal.

Menurut Ferry, pembahasan mengenai kondisi rupiah di media sosial selama ini sering kali tidak utuh dan hanya melihat persoalan dari satu sisi saja.

“Pembahasannya kebanyakan half truth atau enggak komprehensif. Ada yang bilang rupiah melemah menguntungkan eksportir, tapi kenyataannya pertumbuhan ekspor kita enggak besar,” ujar Irwandi di kutip Dialeksis, 14 Mei 2026. 

Ia menyebut pertumbuhan ekspor Indonesia hanya sekitar 0,90 persen terhadap PDB, sedangkan pertumbuhan impor berada di atas 7 persen. Artinya, manfaat pelemahan rupiah hanya dirasakan sebagian kecil eksportir dan tidak mewakili kondisi mayoritas masyarakat Indonesia.

Ferry juga menepis anggapan bahwa pelemahan rupiah sepenuhnya menjadi tanggung jawab Bank Indonesia. Menurutnya, nilai tukar dipengaruhi banyak aspek, mulai dari kebijakan fiskal, moneter, kondisi ekonomi nasional, hingga tingkat kepercayaan pasar terhadap pemerintah.

Ia pun menilai kondisi saat ini belum bisa disamakan dengan krisis moneter 1998. Menurut Ferry, pada 1998 pelemahan rupiah terjadi sangat cepat hingga memicu kepanikan pasar, sementara kondisi saat ini berlangsung lebih bertahap.

“Yang bikin krisis 98 itu percepatannya. Kenaikannya sangat cepat sampai 600 persen dalam waktu singkat,” jelasnya.

Dalam penjelasannya, Ferry membagi penyebab pelemahan rupiah ke dalam tiga faktor utama, yakni eksternal, domestik, dan kepercayaan pasar.

Dari sisi eksternal, ia menyoroti kuatnya dolar AS akibat tingginya suku bunga Amerika Serikat dan meningkatnya ketidakpastian global. Situasi geopolitik di Timur Tengah juga membuat investor lebih memilih menyimpan aset dalam bentuk dolar AS sebagai instrumen aman atau safe haven.

“Banyak modal keluar dari negara berkembang menuju Amerika Serikat karena dianggap lebih aman dan memberi imbal hasil lebih besar,” kata Ferry.

Sementara dari sisi domestik, Ferry menyoroti besarnya belanja pemerintah dan meningkatnya subsidi energi. Ia menyebut pendapatan negara pada kuartal pertama 2026 memang meningkat 10,5 persen atau mencapai Rp574,9 triliun, namun belanja negara melonjak lebih tinggi hingga 31,4 persen menjadi Rp815 triliun.

Dari total belanja tersebut, sekitar Rp610 triliun merupakan belanja pemerintah pusat. Ferry menyebut lonjakan pengeluaran negara menyebabkan defisit APBN mencapai Rp240 triliun atau sekitar 0,95 persen dari PDB.

Selain itu, ia menyoroti kenaikan subsidi energi yang mencapai lebih dari 266 persen atau sekitar Rp118 triliun. Menurutnya, subsidi memang diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat, namun di sisi lain ikut memperbesar tekanan terhadap APBN dan nilai tukar rupiah.

Ferry menjelaskan pertumbuhan impor Indonesia juga jauh lebih tinggi dibanding ekspor. Pada kuartal pertama 2026, ekspor hanya tumbuh 0,34 persen sementara impor meningkat 10,05 persen. Kondisi tersebut membuat kebutuhan dolar AS semakin tinggi di tengah melemahnya rupiah.

Faktor ketiga yang disoroti Ferry adalah kepercayaan pasar. Ia menilai komunikasi pemerintah terkait kondisi ekonomi masih perlu diperbaiki agar lebih objektif dan tidak sekadar glorifikasi angka pertumbuhan ekonomi.

Ferry mengkritik pernyataan pejabat yang membandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan negara maju seperti Amerika Serikat dan Singapura. Menurutnya, perbandingan itu tidak relevan karena ukuran dan karakter ekonomi setiap negara berbeda.

“Kalau mau fair, bandingkan dengan negara berkembang lain seperti Vietnam atau Taiwan,” ujarnya.

Sebagai solusi, Ferry meminta pemerintah memperbaiki komunikasi publik, membenahi struktur APBN agar lebih efisien, memperkuat insentif penyimpanan devisa hasil ekspor di dalam negeri, serta meningkatkan sinergi antara Bank Indonesia, OJK, dan Kementerian Keuangan.

Menurut Ferry, koordinasi antarlembaga ekonomi sangat penting untuk menahan arus modal keluar dan menjaga stabilitas rupiah.

“Kalau kebijakannya enggak sinergi, rupiah akan terus melemah,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI