DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pemerhati Politik dan Pemerintahan Aceh, Risman Rachman, memberikan apresiasi sekaligus catatan strategis terhadap langkah cepat Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), yang menginstruksikan pelaksanaan Pasar Murah secara serentak di 23 kabupaten/kota.
Menurut Risman, kebijakan tersebut bukan sekadar agenda rutin menjelang Ramadan, melainkan langkah strategis dalam merespons kondisi ekonomi Aceh yang tengah menghadapi tekanan inflasi.
“Langkah Mualem melalui Disperindag Aceh ini adalah jawaban yang sangat tepat dan terukur. Ketika angka inflasi melambung, rakyat butuh bukti nyata kehadiran pemerintah di pasar, bukan sekadar imbauan di atas kertas,” ujar Risman Rachman dalam keterangannya kepada Dialeksis di Banda Aceh, Rabu (11/02).
Sebagaimana diketahui, Aceh baru saja dilaporkan sebagai provinsi dengan tingkat inflasi tertinggi di Indonesia pada awal 2026. Dalam konteks tersebut, Risman menilai intervensi pasar melalui program Pasar Murah menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas harga sekaligus stabilitas sosial.
Ia menjelaskan, dalam perspektif tata kelola pemerintahan, Pasar Murah dapat berfungsi sebagai shock therapy untuk mencegah spekulan memainkan harga di tengah situasi sulit pascabencana dan meningkatnya kebutuhan menjelang bulan puasa.
“Secara psikologis, masyarakat merasa ‘dilindungi’. Saat mereka mendengar Aceh inflasi tertinggi, ada kecemasan kolektif. Namun, dengan hadirnya 69 titik pasar murah dengan subsidi hingga Rp15.000 untuk telur dan Rp5.000 untuk beras, kecemasan itu diredam. Ini penting bagi stabilitas sosial jelang bulan puasa,” jelasnya.
Meski demikian, Risman mengingatkan bahwa pengawasan di lapangan menjadi faktor kunci keberhasilan kebijakan tersebut. Ia menekankan pentingnya pelaksanaan instruksi Gubernur kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh agar distribusi logistik berjalan tepat sasaran.
“Instruksi Mualem agar Disperindag mengawal ketat distribusi itu wajib dijalankan tanpa kompromi. Kita tidak ingin subsidi yang besar ini dinikmati oleh oknum, melainkan harus sampai ke tangan warga yang benar-benar terdampak bencana dan inflasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, Risman berharap program Pasar Murah ini tidak berhenti sebagai solusi jangka pendek, tetapi menjadi pintu masuk bagi pembenahan sistem distribusi pangan di Aceh secara lebih menyeluruh.
“Pasar murah ini adalah solusi jangka pendek yang sangat menolong. Ke depannya, kita berharap koordinasi antar-lembaga terus diperkuat agar status ‘inflasi tertinggi’ tidak lagi melekat pada Aceh di masa mendatang,” pungkas Risman Rachman. []