Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Politik dan Hukum / Jelang Musda Demokrat Aceh, Nama DNA Kian Menguat

Jelang Musda Demokrat Aceh, Nama DNA Kian Menguat

Senin, 09 Februari 2026 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pidie, Teuku Syawal. Foto: Ist


DIALEKSIS.COM | Sigli - Dinamika menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Demokrat Aceh mulai menunjukkan eskalasi politik. Sejumlah nama mulai mencuat sebagai kandidat Ketua DPD Partai Demokrat Aceh periode 2026 - 2031, dengan dukungan terhadap figur internal partai kian menguat.

Musda Demokrat Aceh 2026 dipandang sebagai momentum strategis, tidak hanya menentukan arah kepemimpinan baru, tetapi juga konsolidasi kekuatan partai menghadapi kontestasi politik ke depan. Dari internal partai, nama Drh. Nurdiansyah Alasta, M.Kes (DNA) dan H.T. Ibrahim menjadi perbincangan. Sementara dari eksternal, Illiza Sa’aduddin Djamal turut masuk dalam radar wacana politik.

Di tengah menghangatnya dinamika tersebut, Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Pidie, Teuku Syawal, secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Nurdiansyah Alasta. Ia menilai DNA sebagai figur paling representatif untuk memimpin Demokrat Aceh ke depan.

Menurut Syawal, DNA memiliki kombinasi pengalaman politik, kapasitas kepemimpinan, intelektualitas, serta jaringan komunikasi yang kuat, baik di internal partai maupun lintas kepentingan strategis.

“Beliau dua periode menjadi anggota DPRA, memiliki relasi politik yang baik dengan partai nasional maupun partai lokal, serta mampu membangun komunikasi efektif dengan Pemerintah Aceh saat ini,” ujar Teuku Syawal kepada Dialeksis, Kamis (5/2/2026).

Selain rekam jejak politik, Syawal juga menyoroti posisi strategis DNA yang saat ini menjabat sebagai Ketua Komisi IV DPRA serta Bendahara DPD Partai Demokrat Aceh. Menurutnya, kedua peran tersebut dijalankan dengan kinerja yang terukur dan konsisten.

Dalam berbagai momentum, DNA dikenal vokal menyuarakan isu-isu strategis daerah, termasuk dugaan aliran dana tidak jelas dari aktivitas tambang ilegal yang dinilai merugikan Aceh. Sikap kritis tersebut, kata Syawal, mencerminkan keberanian politik dan kemampuan membaca persoalan struktural di daerah.

“Keberanian bersikap dan kecakapan membaca isu strategis adalah indikator penting bagi kepemimpinan Demokrat Aceh ke depan,” katanya.

Faktor regenerasi juga menjadi perhatian serius. Syawal menilai Demokrat Aceh membutuhkan sosok pemimpin yang mampu menjangkau pemilih muda, seiring meningkatnya dominasi generasi tersebut dalam peta pemilih.

“Pemilih muda akan menjadi penentu pada pemilu mendatang. Dibutuhkan figur yang intelek, komunikatif, energik, dan adaptif terhadap perubahan zaman,” ujarnya.

Meski demikian, Syawal menegaskan bahwa seluruh proses Musda harus tetap berjalan sesuai mekanisme organisasi. Keputusan akhir, katanya, tetap berada di tangan Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat.

“Kami menghormati seluruh tahapan Musda. Pada akhirnya, kita tunduk dan patuh pada keputusan Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Mas AHY,” pungkasnya.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI