DIALEKSIS.COM | Jakarta - Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menerima audiensi tim produksi film kolosal berjudul "Dayak" di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta. Pertemuan tersebut membahas rencana produksi film layar lebar yang mengangkat sejarah, keberagaman, dan nilai perdamaian masyarakat Dayak.
Ketua Tim Produksi Film "Dayak", Thoeseng T.T. Asang, mengatakan film tersebut bertujuan memperkenalkan kekayaan budaya Dayak kepada masyarakat luas sekaligus melestarikan warisan budaya yang dimiliki ratusan sub suku Dayak di Kalimantan. Film ini juga akan mengangkat Perjanjian Tumbang Anoi tahun 1894 sebagai simbol perdamaian masyarakat Dayak.
Produser Eksekutif film, Abriantinus, menyebut riset film telah dilakukan sejak 2021 dengan melibatkan tokoh adat dan masyarakat Dayak. Menurutnya, film ini diharapkan dapat meluruskan stigma negatif terhadap masyarakat Dayak serta memperkenalkan nilai-nilai hukum adat yang menjunjung perdamaian dan kebersamaan.
Menanggapi hal tersebut, Fadli Zon menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap produksi film "Dayak". Ia menilai budaya Dayak merupakan bagian penting dari kekayaan budaya nasional yang layak diangkat ke layar lebar. Namun, ia menekankan pentingnya penguatan skenario agar film mampu menarik minat penonton dan sukses sebagai film komersial.
Fadli berharap film "Dayak" dapat menjadi sarana edukasi budaya, pengenalan sejarah, serta promosi nilai-nilai perdamaian dan keberagaman Indonesia kepada generasi muda dan masyarakat luas. [red]