Kamis, 04 Juni 2026
Beranda / Celoteh Warga / Trilogi Puisi Agusni AH "GODA"

Trilogi Puisi Agusni AH "GODA"

Rabu, 03 Juni 2026 16:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Agusni AH
Ilustrasi. [Foto: Desain ChatGPT oleh dialeksis.com]

DIALEKSIS.COM | Aceh - Agusni AH dalam trilogi puisi "GODA" menampilkan haluan yang berbeda dari karya-karyanya terdahulu. Ia menghadirkan sebuah frasa yang sekilas terasa "aneh" dan "nyeleneh": menggoda Tuhan. Frasa ini tentu mengundang tanda tanya, bahkan mungkin memancing pembacaan yang kontroversial jika dipahami secara harfiah.

Namun, di tangan Agusni AH, kata menggoda mengalami perluasan makna. Ia tidak lagi dimaknai sebagai rayuan yang bernuansa duniawi, melainkan sebagai bentuk kerinduan, kedekatan, dan kesungguhan seorang hamba dalam mengetuk pintu langit melalui doa, zikir, dan penghambaan. Tuhan "digoda" dengan ketekunan beribadah, dengan harapan yang tak putus-putus, serta dengan keinginan untuk terus berada dalam lindungan-Nya.

Di sisi lain, puisi ini menghadapkan pembaca pada kenyataan bahwa manusia setiap saat digoda oleh setan dan hawa nafsunya. Karena itu, satu-satunya cara agar tidak kalah oleh godaan tersebut adalah dengan "menggoda" Tuhan lebih kuat lagi.

Pilihan diksi yang tidak lazim itulah yang menjadi kekuatan puisi ini. Agusni AH seakan ingin mengguncang kebiasaan berpikir pembaca. Ia mengajak kita melihat bahwa bahasa puisi tidak selalu bergerak dalam jalur yang lurus. Kadang-kadang, justru melalui ungkapan yang tak terduga, lahir renungan yang lebih dalam. "Menggoda Tuhan" pada akhirnya bukanlah tindakan lancang, melainkan metafora tentang kegigihan seorang manusia yang terus mengetuk pintu kasih sayang-Nya agar terhindar dari godaan yang menyesatkan.

Trilogi GODA menjadi pengingat bahwa dalam pertarungan antara cahaya dan gelap di dalam diri manusia tidak cukup hanya menghindari godaan setan. Ia juga harus aktif mendekati Tuhan, merayu-Nya dengan doa-doa, dan memanggil-Nya dengan kerinduan yang tak pernah padam. Di situlah letak pelajaran religius yang tersimpan di balik frasa yang tampak nyeleneh dapat dibaca berikut ini:

GODA (I)

Izinkanku merayumu dengan sikap, dan jangan cemburu kugoda-Nya dengan segala cara dan doa-doa...//(a.ah).

______________

GODA (II)

Izinkanku merayumu dengan sikap,

bukan sekadar kata yang singgah sesaat;

dan jangan cemburu bila kuhadapkan harap

kepada-Nya yang menggenggam segala semat

Izinkanku menggodamu dengan setia,

dalam langkah yang tak banyak bicara;

dan jangan cemburu bila dalam doa,

nama-Nya lebih dahulu kusebut mesra

Sebab cinta yang tumbuh di antara kita hanyalah titipan yang mesti terjaga;

sedang kepada-Nya segala rasa bermuara,

menjadi asa, menjadi cahaya

Maka bila kugoda-Nya dengan doa-doa,

itu bukan berarti cintaku terbagi dua;

justru agar kasih yang kita pelihara,

tetap berakar pada ridha-Nya selamanya...//(a.ah).

_____________

GODA (III)

Aku goda Tuhan dengan doa,

agar hati tak mudah dirundung nestapa;

sebab setan tak pernah lelah menggoda jiwa,

membisikkan jalan gelap penuh daya

Aku goda Tuhan dengan zikir yang mesra,

dengan airmata yang jatuh tanpa suara;

karena setan menebar tipu dan pesona,

agar langkah tersesat dari jalan-Nya

Aku goda Tuhan dengan amal yang nyata,

dengan sabar saat hidup mengujiku manusia;

karena setan datang membawa dusta,

menghias salah seakan mulia

Teruslah menggoda Tuhan sepanjang usia,

meminta cahaya untuk menjaga mata;

agar godaan setan menjauh selamanya,

dan hati berlabuh dalam damai-Nya...//(a.ah). 

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI