Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Feature / Pejabat ‘Memaksa’ Rakyat Untuk Panik Buying

Pejabat ‘Memaksa’ Rakyat Untuk Panik Buying

Kamis, 05 Maret 2026 11:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Bahtiar Gayo
Padat merayap, suasana antri minyak di Aceh Tengah. ( foto/ Baga)

DIALEKSIS.COM| Feature- Tajamnya lidah mengundang bencana. Itulah yang dilakukan pejabat negara. Karena ucapanya rakyat dipaksa untuk panik buying. Antri berjam-jam untuk menyetok kebutuhan.

Mengapa pejabat negara tidak memikirkan nasib rakyat, justru memancing, memaksa rakyat untuk susah? Perang Iran- Israil, Amerika, latahnya pernyataan Menteri Bahlil, telah membuat rakyat di pengunungan Aceh panik buying.

Masyarakat ramai-ramai menyerbu SPBU, pusat perbelanjaan untuk menyetok sembako. Sudah dua hari Kawasan penghasil kopi ini masyarakatnya dipaksa untuk panik buying.

“Trauma banjir bandang dimana kami susah mendapatkan minyak dan sembako, ditambah pernyataan Menteri Bahlil stok minyak hanya cukup 20 hari, ada juga WA yang beredar mengakitbatkan kami harus antri minyak,” sebut Kaustar, salah seorang warga Aceh Tengah.

Dia mengaku sudah antri minyak sejak usai subuh di SPBU Jalan Lintang Takengon, Kamis (5/3/2026), karena seharis sebelumnya warga Bener Meriah sudah ekspansi ke Aceh Tengah untuk mendapatkan BBM dan sembako.

“Daripada tidak kebagian, jadilah walau hanya 5 liter petramak diisi dalam jeringen, “ sebut Inen Syifa, warga lainya yang ikut antri minyak bersama kaum lelaki, sambil menenteng jeregen menuju SPBU.

Amatan Dialeksis.com di lapangan, antrian panjang itu bukan hanya di satu SPBU, namun di seluruh SPBU, bahkan di Bener Meriah juga masih terjadi hal yang sama. Antrian itu mencapai 1 kilometer. Warga dari kecamatan dan desa berbondong-bondong menyerbu SPBU.

Banyak diantara masyarakat yang membawa jerigen, berebut untuk mendapatkan pertamak, sementara sepeda motor dan mobil harus antri panjang untuk mendapatkan pertalit, pertamax dan solar.

Mereka antri, terpaksa menahan terik matahari dalam kondisi puasa demi mendapatkan minyak. Sementara pengecer minyak yang selama ini bertaburan di seputaran kota, adanya antrian panjang ini para pengecer itu menghilang. Stok minyak mereka telah habis karena diserbu warga.

Panik buying ini telah mengakibatkan kerugian besar, aktivitas masyarakat terhenti, mereka focus untuk mendapatkan minyak. Bahkan di kecamatan kecamatan minyak yang dijual di Pertamina shop, habis tidak tersisa.

Menteri Bahlil yang latah “memaksa” rakyat untuk panik buying ini, kemudian meluruskan statemenya. Namun masyarakat sudah terlanjur termakan isu, ditambah lagi ada WA beredar  dari mereka yang memanfaatkan situasi. WA itu menyebutkan, tentang kelangkaan minyak dan saat ini kesempatan untuk membeli minyak, mengakibatkan masayarakat berbondong-bondong tetap antri minyak.

Menyikapi keadaan ini, Pemerintah Aceh Tengah, melalui Kadis Infokom, Mustafa Kamal telah menghimbau masyarakat untuk tidak panik, karena ketersedian minyak seperti hari hari biasanya.

“Berdasarkan informasi dari Pertamina, terdapat kapal yang baru sandar untuk memenuhi kebutuhan BBM wilayah detribusi wilayah Lhokseumawe termasuk Aceh Tengah di dalamnya, untuk memenuhi kebutuhan hari raya Idul Fitri,” sebut Mustafa Kamal.

“Stok di depot saat ini, untuk distrubis wilayah Lhokseumawe termasuk Aceh Tengah di dalamnya ketersedian pertamax ada satu juta 3400 ribu liter. Pertalit ada 3 juta 630 ribu liter dan solar ada 2 juta tiga ratus ribu liter,” sebut Kadis Infokom Mustafa Kamal.

“Dari data ini, insya Allah stok BMM dalam kondisi aman. Diharapkan kepada masyarakat tidak perlu panik buying, karena distribusi BBM ke Aceh Tengah akan dilakukan setiap hari, seperti biasa,” sebut Kadis Infokom.

Namun keadaan di lapangan antrian panjang itu tetap terjadi. Walau ada Sebagian yang antri mengakui sudah mendengarkan penjelasan Kadis Infokom, namun dia juga ikut latah untuk tetap antri, karena trauma pada masa musibah banjir.

Perang Iran membawa dampak pada seluruh dunia, apalagi disebut ada dua kapal tanker Indonesia yang terjabak di Selat Hosmuz, walau pemerintah Indonesia menyebutkan aman dan akan ada jalan keluarnya. Namun masyarakat di Kawasan pengunungan Aceh ini panik buying.

Apalagi dengan pernyataan Menteri Bahlil, kepanikan itu semakin menjadi. Pejabat negara ini secara tidak langsung sudah memaksa rakyat untuk panik buying.

Rakyat Aceh kecewa kepada Menteri yang sering lepas ngomong dan tidak istiqamah ini. Dulu saat musibah, dia melaporkan ke Presiden bahwa listrik di Aceh akan menyala mencapai 97 persen, namun kenyataanya berbulan-bulan paska musibah, belum sepenuhnya listrik menyela di Aceh.

Kini soal stok minyak, Bahlil secara tidak langsung telah memaksa rakyat untuk panik buying. Lihatlah antrian panjang dalam teriknya mahatari menghiasi negeri ini. Statemen pejabat yang hebat, rakyat yang merasakanya.


Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI