Dialeksis.com |Feature- Ada korban hidrometeorologi bagaikan pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”. Penderitaanya berlapis. Sudah didera musibah, namun dia terlewatkan tidak mendapat bantuan dari pemerintah. Tidak masuk dalam data.
Sementara tetangganya yang sama sama diamuk banjir bandang, bukan hanya menetap di Huntara, menjelang ke huntap, juga mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa jadup dan bantuan perbaikan ekonomi. Dimana rasa keadilan, mengapa mereka terlewatkan.
Catatan Dialeksis.com, persoalan data ini hampir seluruh kawasan bencana memunculkan persoalan. Ada data yang tertinggal, tidak masuk dalam daftar kerusakan by name by adres (BNBA).
Namun ada pula yang sudah masuk dalam BNBA, akan tetapi tidak mendapatkan jadup dan bantuan sosial. Ada yang namanya tidak masuk dalam BNBA namun mendapatkan jadup dari Kemensos.
Namun ada juga yang paling menyedihkan, korban yang rumahnya hancur lebur, meninggalkan bekas, namun namanya tidak tertara dalam daftar. Mereka bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Data BPBA masih acak-acakan, belum valid. Banyak data yang disampaikan Kabupaten/Kota, tidak semuanya terekap dalam data Badan Penanggulangan Bencana Aceh. Dermikian juga dengan data BPBD, Perkim, data kerusakan sumber ekonomi masyarakat, belum seluruhnya tercatat dengan baik, ada yang tertinggal, walau sebagian persentasenya kecil.
Namun, sekecil apapun persentase data yang terlewatkan itu, akan meninggalkan duka bagi korban yang tidak masuk dalam data. Mereka bagaikan dianaktirikan.
Dimana terletak kesalahan ini. Apakah pada data aparatur desa, kecamatan, kabupaten, atau di pusat, sehingga ada yang tertinggal. Media mulai meramaikan satu persatu data yang bermunculan ini.
Hampir disetiap daerah menimbulkan persoalan. Bahkan gesekan di lapangan, di desa terjadi. Saling tuding dan menyalahkan. Ada juga aparatur kampung yang protes, mengapa warga mereka yang sudah diusulkan, tidak semuanya masuk dalam daftar.
Bagaikan mengurai benang kusut. Aksi protes bermunculan, bukan hanya dari para korban yang tidak masuk dalam daftar. Kalangan aktivis, mereka yang peduli pada korban mulai bersuara, membela korban yang terlewatkan dalam data.
Para korban, aktivis dan mereka yang peduli meminta Pemerintah daerah untuk membuka secara transparan seluruh data terkait penanganan bencana banjir akibat hidrometeorologi.
Di Aceh Tengah misalnya, Ketua GMNI Aceh Tengah, Saparuda IB, menilai selama ini data penanganan bencana, mulai dari penyaluran bantuan, jumlah pengungsi, hingga skema pemulihan pascabencana belum sepenuhnya terbuka kepada publik.
“Transparansi sangat penting agar masyarakat mengetahui secara jelas langkah yang dilakukan pemerintah dalam menangani dampak bencana,” kata Saparuda dalam keterangannya kepada media.
Seharusnya, semuanya dibuka kepada public secara rinci, mulai dari jumlah pengungsi per desa, daftar penerima bantuan, serta perkembangan penanganan banjir dan kerusakan infrastruktur.
Jika data itu tertutup, maka kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah berpotensi menurun. Tentunya data itu harus dibuka diseluruh wilayah yang terkena bencana Sumatera ini.
Keterbukaan data menjadi kunci untuk memastikan bantuan benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak, keterbukan akan mencegah munculnya persoalan baru dalam proses pemulihan pascabencana.
Persoalan ada data korban yang terlewatkan, kini menjadi duka yang mendalam bagi korban. Di Aceh Tamiang misalnya, ada korban yang sudah menerima kunci untuk menempati huntara, namun kembali dipindahkan ke tenda darurat.
Ada juga korban yang satu desa, mereka bertetangga, namun ada diantara mereka yang belum menempati huntara, ada diantara mereka yang tertinggal tidak mendapatkan jadup dan bantuan pemulihan ekonomi. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Beregam persoalan itu kini bermunculan. Pemerintah mulai dari pusat hingga ke daerah mendapat tantangan dalam menyelesaikan masalah ini. Para korban sudah lelah, terombang-ambing dalam ketidakpastian.
Sudah mendekati empat bulan bencana, persoalan data saja masih ada yang tertinggal. Masih ada korban bagai anak tiri yang terlupakan. Sampai kapan mereka menanti kepastian?